Mengusir Hantu Bernama Sayu10 min read

1. Atmosfero

Gantungan tasbih bergoyang-goyang ketika mobil yang Adam kemudikan mengerem mendadak. Malam itu, pukul dua puluh, cuaca lumayan cerah dan jalanan masih ramai dengan orang-orang yang pulang dari kantor menuju rumah masing-masing. Namun kali ini tujuan Adam bukanlah rumah, melainkan sebuah tempat yang baru pertama kali ia datangi.

“Di sini, Pak?” tanya Adam kepada Edy, manajernya yang sedang duduk di sampingnya sambil mengetik sesuatu di ponsel.

Edy menoleh.

“Oh iya, belok kiri ke sini. Masuk aja ke parkiran.”

Sejak siang tadi, Edy memang sudah meminta Adam untuk mengantarnya ke tempat ini. Alasannya, karena hari ini adalah tanggal ganjil dan mobil BMW yang ia miliki bernomor genap. Sementara itu, mobil Avanza Adam bernomor ganjil sehingga tidak akan terkena razia ganjil-genap. Meski Adam tentunya bukanlah supir pribadinya, tapi ia adalah stafnya yang paling akrab. Sudah dua tahun ini mereka bekerja bersama dan kedekatan Adam dengan bosnya seringkali membuat staf yang lain merasa iri.

Area parkir itu lumayan luas. Ada tiga buah mobil yang sudah diparkir di sana, semua terlihat lebih mewah dan bersih daripada mobilnya. Dalam hati, Adam menduga satu-satunya alasan Edy memintanya mengantar adalah untuk menutupi jejak agar tidak ada yang tahu (termasuk supir pribadinya) bahwa ia berkunjung ke tempat ini. Ia memarkikran mobilnya di sebelah Fortuner hitam dengan hati-hati. Tak jauh dari tempat parkir terdapat plang neon kecil bertuliskan “Atmosfero Relaxation” berwarna pink dan biru yang berkedip-kedip. Ia membayangkan, tempat ini mungkin semacam griya pijat, atau spa, atau apa pun yang berhubungan dengan suasana relaks.

“Sebentar, ya,” ucap Edy sambil menelepon seseorang. “Halo? Bos! Gue udah di depan, nih. Langsung masuk aja? Oke, oke. Gue sebut nama lo, ya? Siap, siap. Gue berdua nih sama staf … eng, temen gue. Ajak masuk aja? Siap, Bos!”

Adam melirik. Ia bisa menduga siapa yang ditelepon bosnya: seorang pengusaha bernama Chian atau Thian yang tempo hari datang ke kantornya. Chian atau Thian ini tampaknya memiliki beberapa tempat usaha, dan tempat ini salah satunya. Entah sebagai balas budi atau pendekatan karena apa, Edy diundang ke tempat ini secara eksklusif.

“Yuk! Lo ikut, ya!” kata Edy sambil membuka pintu mobil.

Adam agak gugup. “Nggak usah, Pak. Saya tunggu di sini aja.”

“Lah, ngapain? Lo kan bukan supir. Ikut, lah. Gratis kok, gue kenal sama yang punyanya.”

“Beneran, Pak. Saya di sini aja. Mau makan nasi goreng di depan.”

“Ah, banyak alasan. Makan di dalam aja, kayanya di sana ada kafe deh.”

“Nggak, Pak. Makasih. Beneran,” ucap Adam sambil berusaha tersenyum sopan. Meski Edy sudah berulang kali mengatakan kepadanya agar tidak usah terlalu sopan dan formal, tapi Adam tetap menghormatinya sebagai atasan dan senior yang turut menentukan kelangsungan kariernya di kantor.

Edy merogoh kantongnya, kemudian memberikan uang seratus ribu. “Nih, gue traktir deh nasi gorengnya!” ucapnya.

Meski uang itu terlalu banyak jumlahnya dan ia sendiri pun masih punya uang untuk membeli sepiring nasi goreng di warung tenda pinggir jalan, tapi Adam tetap menerima pemberian itu. Supaya tidak mengulur waktu lagi, pikirnya.

Thanks, Pak.”

“Siip. Nanti telepon gue ya, kalau lo berubah pikiran!”

Adam mengangguk meski di dalam hati ia merasa hal itu tak akan terjadi.

Edy turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu masuk tempat bernama Atmosfero Relaxation Massage itu. Beberapa orang tampak keluar dari arah yang berlawanan. Ada seorang kakek bertongkat yang dikawal oleh dua orang pria bertubuh besar yang tampak seperti tukang pukul, dan satu orang pria muda yang menggendong ransel. Salah satu pengawal itu sempat memerintahkan Edy untuk minggir karena menghalangi jalan. Setelah itu, mereka masuk ke dalam sebuah mobil Alphard yang diparkir di area VVIP. Dari jauh, Adam hanya bisa memperhatikan dan berdecak kagum. Orang macam apa saja yang datang ke tempat ini? Apa iya kakek itu masih perlu relaksasi?

Setelah rombongan itu pergi dan Edy sudah masuk ke dalam, Adam merendahkan kursi mobil dan merebahkan badannya. Semua itu bukan urusannya, ia bergumam dalam hati. Perutnya pun sebenarnya tidak lapar. Ia akan menyimpan uang dua ratus ribu rupiah itu untuk keperluan lain.

Ia memejamkan mata sambil mendengarkan radio. Penyiar radio memberitakan kemacetan jalan, kasus kriminal, dan angka pengangguran. Saat sedang santai menyimak, tiba-tiba saja Adam dikagetkan dengan getaran ponsel di sakunya. Awalnya ia mengabaikannya. Mungkin hanya notifikasi dari grup WhatsApp. Namun getaran itu terus berlangsung menandakan adanya panggilan telepon. Ia segera mengeluarkan ponselnya. Di layar ada nama Pak Edy (Calling….) lengkap dengan foto profilnya yang diambil dari foto keluarganya: Edy, istrinya, dan sepasang anak kembarnya.

“Ya, Pak?” tanya Adam.

“Dam, lo ke sini, dong.”

“Oh, saya di sini aja, Pak.”

“Sini, Dam. Gue butuh bantuan lo. Penting.”

Adam ingin menolak lagi, tapi ada batasan sampai berapa kali ia berani menolak permintaan atasan. Apalagi, nada suara Edy mulai terdengar seperti perintah–sesuatu yang seharusnya bisa ia abaikan, mengingat mereka sudah berada di luar jam kerja.

“Ke dalam?” tanya Adam.

“Iya, ke sini” jawabnya. “Sorry, ya.”

Edy menutup telepon. Adam segera mematikan mesin mobil, kemudian keluar sambil menghela napas.

Udara dingin dari AC menyergap tubuh Adam ketika ia membuka pintu kaca. Ia disambut oleh seorang perempuan muda di balik meja resepsionis.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan itu sambil tersenyum manis.

“Mau ke Pak Edy, yang barusan masuk sini,” jawab Adam, “ada yang ketinggalan.”

Resepsionis itu tampak membuka buku catatannya, mungkin mencari nomor kamar.

Adam melanjutkan, “Temannya Pak Thian … Chian.”

“Oh, tamunya Pak Thian. Silakan di kamar nomor sembilan.”

Adam berjalan ke arah yang ditunjukkan respsionis. Seorang pria berwajah ramah segera menghampirinya dan menunjukkan jalan. Alunan nada-nada lembut dari pengeras suara di sudut-sudut ruangan segera membuainya. Mungkin ini yang namanya musik relaksasi, pikirnya. Namun saat melihat beberapa gadis beseragam dan rok mini berlalu lalang, ia merasa atmosfir di tempat ini agak kontradiktif—antara tenang dan tegang.

Pintu-pintu kamar dari kayu berjajar, mengingatkannya pada tempat kostnya sewaktu kuliah dulu. Bedanya, tempat ini memiliki dinding berlapis kayu, cahaya redup dari lampu di langit-langit dan lantai, suara gemericik air, dan aroma yang mengingatkannya pada bau tanah di kala hujan.  Kamar Petrichor 9.  Saat tiba di depan kamar itu, pria yang mengantarnya segera pergi lagi. Adam mengetuk pintu itu, kemudian Edy keluar. Ia tampak tergesa-gesa mengancingi kemejanya.

“Eh, Dam. Kunci mobil mana?” tanya Edy.

Adam mengernyitkan dahi. Buat apa ia meminta kunci mobil? Padahal tidak mungkin ia membiarkan Edy menyupir mobilnya.

“Ini, Pak. Ada apa?”

“Gue ada urusan penting, mendadak. Pinjam mobilnya, nanti gue balik ke sini lagi.” ucap Edy sambil mengambil kunci mobil dari tangan Adam. 

“Kalau gitu biar saya antar ….”

“Jangan. Pak Thian udah nyiapin semua ini spesial buat gue. Kalau gue cancel semua, dia bisa tersinggung. Lo aja yang gantiin gue,” ujar Edy, mendorong Adam masuk ke dalam kamar dan menepuk pundaknya. “Itu yang di dalam buat lo aja. Tadi belum mulai kok.”

Adam berusaha menolak, tapi Edy tidak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia segera keluar dan menutup pintu, meninggalkan Adam yang tergagap-gagap.

Adam membalikkan badan dan melangkah dengan kaki yang agak gemetar. Di dalam ruangan itu, ia merasa seperti berada di dunia lain. Setiap dinding ruangan itu dihias dengan sangat indah. Ada pohon-pohon rindang, dedaunan yang tampak nyata, apel merah yang mengantung dari ranting-ranting, dan bahkan lukisan seekor kijang yang mengintip malu. Ia seperti berada di dalam sebuah karya seni. 

Satu hal yang agak surealistis, di tengah nuansa hutan rindang itu ada sebuah tempat tidur berseprei putih. Di atas tempat tidur itu, duduk seorang gadis muda bertubuh mungil dan berambut hitam panjang. Ia mengenakan kaos dan rok pendek biru muda yang senada dengan sekelilingnya. Namun tatapan matanya agak kosong, seperti mati. Sepasang mata itu mendadak hidup ketika melihat Adam di hadapannya. Senyumnya merekah begitu saja, seolah ia adalah boneka elektronik yang baru dialiri listrik. Benar saja, tatapan mata dan senyumnya seperti mengandung listrik yang menyetrum sekujur tubuh Adam.

Seharusnya Adam segera minta maaf dan bergegas keluar dari ruangan itu. Namun sesuatu memberatkan hati dan langkah kakinya. Pertama, perintah dari Edy sudah jelas, yaitu menunggunya di sini. Edy membawa mobilnya pergi sehingga ia tidak punya pilihan selain menunggunya kembali. Menunggu di ruang depan atau di halaman parkir akan terasa tidak nyaman dan membosankan. Ruangan ini, tempat yang didesain sedemikian rupa untuk kenyamanannya, membuatnya sulit untuk pergi. Kedua, ada rasa penasaran dalam dirinya untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru. 

Ia kembali teringat pada papan neon yang berkedip-kedip di pintu masuk tadi: Atmosfero Relaxation. Ia menduga, semua ini hanyalah layanan pijat relaksasi dengan atmosfer unik. Itulah mengapa mereka menamakanya Atmosfero. Tidak ada yang salah, baik secara hukum ataupun moral. Tak ada satu pun pengumuman yang mengindikasikan bahwa tempat ini menyediakan jasa prostitusi. Semua indikasi akan hal itu, kalau pun ada, hanya bersumber dari dugaan dalam kepalanya sendiri yang naif. Semua wajar. Begitulah ia meyakinkan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, Adam menurut saja ketika perempuan itu dengan sopan memintanya menanggalkan seluruh pakaian. Ia berbisik kepada dirinya sendiri agar tidak resah atau menaruh curiga berlebih. Pikirannya begitu sibuk sehingga selama satu jam itu ia tak sempat berbincang dengan perempuan yang memijat tubuhnya. Satu-satunya yang sempat ia tanyakan adalah namanya. 

“Sayu,” bisiknya. 

Sesaat setelah ia membisikkan namanya itu, Adam pun mulai menyadari bahwa sesungguhnya yang membedakan pijat dan hubungan badan hanyalah soal konteks sosial. Di luar itu, interaksi antara dua unit biologis individu, pergesekan permukaan kulit, pergerakan gumpalan daging, dan ekstasi pelepasan endorfin yang ditimbulkannya tidaklah jauh berbeda. 

Ketika ia membiarkan akal sehatnya relaks sejenak, nuansa hutan di sekelilingnya terasa lebih nyata. Hiasan dedaunan di dinding seolah bergemerisik, kicauan burung semakin merdu, dan buah apel yang menggantung tampak lebih merah dan lezat–seperti merayu untuk dipetik. Ia pun membayangkan, bahwa selain seekor kijang yang mengintip, mungkin ada pula makhluk-makhluk hutan lain yang sedang bersembunyi. Mungkin ada ular di balik semak-semak itu? Apakah ini hutan ataukah surga?


Adam sedang berdiri di depan papan neon Atmosfero Relaxation Massage sambil menghisap rokoknya ketika mobil Avanza miliknya masuk ke area parkir. Mobil itu diparkir dengan posisi agak miring, kemudian Edy keluar dari dalamnya sambil tersenyum-senyum.

“Sori, sori. Nunggu lama, ya?” tanya Edy sambil berlari kecil menghampirinya, kemudian menyerahkan kunci mobil. “Tadi ada urusan mendadak sama nyonya besar.”

“Nggak apa-apa, Pak. Nggak ada masalah, kan?”

“No problem,” jawab Edy, masih cengegesan, “Gue baru inget kalau hari ini hari ulang tahunnya dan gue udah ada janji dinner sama dia tadi.”

“Lho, sekarang Ibu nggak ikut?” tanya Adam, meski ia sadar pertanyaan itu terdengar seperti basa-basi yang sangat bodoh.

“Nggak, lah,” jawab Edy. “Tadi gue bilang kalau gue masih meeting sama klien. Abis dinner gue antar dia pulang dulu, terus ceritanya gue balik lagi ke tempat meeting.”

Adam tertawa mendengar penjelasan itu, atau setidaknya berusaha tertawa.

“Tapi lo nggak bosen kan, nunggu di sini?” tanya Edy.

“Nggak, Pak,” jawab Adam.

“Yang tadi … nggak lo anggurin, kan?” ia terkekeh.

“Nggak, lah. Mana mungkin,” jawab Adam sambil mematikan batang rokoknya yang sudah terlalu pendek.

“Nah, gitu dong! Nggak usah jaim kalau di depan gue. Yang tadi itu eksklusif, lho.”

Kilas balik kejadian-kejadian bermunculan dalam benak Adam. Apa yang baru saja ia lakukan beberapa waktu yang lalu adalah hal besar baginya, tapi entah kenapa terasa begitu ringan. Ia tidak merasakan beban apa pun. Ketenangan ini malah membuatnya merasakan rasa bersalah yang ganjil. 

“Pulang sekarang?” tanya Adam.

“Oke!”

Mereka pun masuk kembali ke dalam mobil. Adam masih harus mengantar Edy kembali ke kantor karena mobilnya masih diparkir di sana. Ia melihat jam tangannya. Seharusnya bosnya sudah bisa pulang sekarang tanpa mengkhawatirkan razia ganjil genap lagi. Ia pun menyalakan mesin mobil. Namun sebelum ia sempat melepas rem tangan, saku celananya terasa bergetar. Ada panggilan masuk. Ia melihat foto wajah seorang perempuan cantik di layar ponselnya.

“Halo?”ucapnya dengan pita suara yang gemetar tapi berusaha ditutup-tutupinya.

“Sayang, kamu masih belum mau pulang?” tanya suara perempuan di ponsel.

“Sebentar lagi pulang, kok,” jawab Adam.

“Jangan lama-lama, ya. Dedeknya lagi nendang-nendang terus, nih,” ujarnya, kemudian tertawa.

Adam berusaha ikut tertawa, tetapi kali ini ia tak berhasil. “Calon pemain bola mungkin, ya?” guraunya.

“Iya. Mungkin juga atlet taekwondo, nih. Udah nggak sabar mau nendang bapaknya,” ucap perempuan itu lagi.

Tawa yang keluar dari mulut Adam terasa begitu kering dan kaku, tapi sepertinya tidak terlalu jelas terdengar dari sambungan telepon. Setelah meyakinkan istrinya bahwa ia akan segera pulang, ia pun menutup telepon. Ia menelan ludah, kemudian menjalankan mobilnya keluar dari area parkir. Gantungan tasbih di hadapannya masih bergoyang-goyang ketika ia keluar dari tempat itu, bahkan kali ini goyangannya terasa lebih kencang.

Facebook Comments

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).