Mengusir Hantu Bernama Sayu (2)9 min read

Part 2: Urban Legend

Hujan tak kunjung reda. Para pegawai kantor bertahan di menara mereka, berteduh di antara jendela-jendela kaca dan tembok-tembok kaku. Sebagian yang cukup beruntung membawa mobil pribadi memutuskan untuk pulang sambil menerjang hujan, sementara yang lain berusaha untuk tetap sabar sambil bertanya-tanya apakah malam ini banjir akan kembali melanda ibukota. ​​

​​Meski tidak membawa kendaraan pribadi, Denny tidak bisa bertahan di kantor. Ia sudah cukup muak melihat meja kerjanya. Sudah seribu satu malam ia habiskan untuk lembur tetapi berkas pekerjaan masih saja menumpuk. Ia merasa dijajah.

Sambil keluar dari kubikel, ia memesan taksi online lewat ponselnya. Biasanya ia tidak akan memesan mobil bila bepergian seorang diri, tapi hujan deras ini tak memberinya pilihan. Apalagi ia teringat bahwa masih ada voucher diskon lima puluh persen yang sudah lama tak digunakan.

Sambil menunggu notifikasi di ponsel, ia turun menggunakan lift dari lantai enam, kemudian menyusuri lorong hingga ke lobi gedung tanpa bertegur sapa dengan siapa pun. Tak banyak yang mengenalnya di gedung ini. Ia baru dua bulan pindah dan sebagian besar waktunya ia habiskan di depan meja.

Selain satpam gedung yang sedang berjaga di samping pintu, hanya ada dua orang karyawan yang berdiri menunggu mobil di lobi. Musik lounge terdengar samar-samar dari pengeras suara. Melodinya bercampur dengan ritme suara hujan dari luar, menimbulkan ambience yang cocok untuk bermalas-malasan. Tiba-tiba, saku celana Denny terasa bergetar. Ia memeriksa ponselnya sekali lagi.

​​Kami menemukan pengemudi untuk Anda. Mohon memenunggu.

​​​Biasanya akan sangat sulit menemukan pengemudi yang aktif saat hujan deras seperti ini. Ia merasa beruntung. Terlebih lagi ketika melihat profil pengemudinya yang membuat ia tersenyum. Ada foto seorang perempuan berambut lurus sebahu yang tampak berusia dua puluhan. Jarang sekali ia mendapatkan pengemudi perempuan muda. Namun ia tidak mau berharap. Bisa saja foto itu hanya tipuan. Mungkin itu foto istri atau pacar si pengemudi asli? Ia tidak peduli, ia hanya ingin cepat pulang.

​​Lima menit kemudian, sebuah sedan Corolla tua menepi di lobi. Ia sempat ragu ketika melihat kondisi mobil itu. Tidak hanya tua, tapi juga tak terawat. Sekilas, ia bisa melihat beberapa goresan pada body mobil dan bagian yang penyok pada bumper. Namun setelah memeriksa plat nomornya berulang kali, ia yakin bahwa itulah taksi online yang ia tunggu.

​​Mobil berhenti. Kaca jendelanya tampak sangat gelap, nyaris tak terlihat apa pun dari luar. Ketika akhirnya kaca mobil itu diturunkan, ada seorang perempuan yang sedang menatapnya. Wajahnya memang mirip seperti foto di aplikasi, tapi entah kenapa ia memunculkan kesan yang berbeda. Foto di aplikasi menampilkan wajah yang rapi dan percaya diri: rambut tertata, wajah cerah, senyum mengembang, tatapan mata profesional. Namun perempuan di hadapannya tampak seperti orang yang selama tiga hari tiga malam tidak sempat tidur maupun mandi.

​​”Pak Denny?” ucap pengemudi itu. Akhirnya namanya disebut juga.

​​”Nirmala?” balasnya.

​​Pengemudi bernama Nirmala itu mengangguk, kemudian mempersilakan Denny masuk.

​​Andai saja Nirmala secantik fotonya, Denny mungkin akan tergoda untuk duduk di kursi depan dan mencoba mengajaknya berkenalan. Namun melihat kenyataan yang tak sesuai harapan, ia mengurungkan niat itu dan membuka pintu belakang mobil.

Namun tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya. Kursi belakang sudah penuh oleh dua buah peti kayu dan tas ransel bergambar Hello Kitty. Ia mengernyitkan dahi. Orang ini niat, nggak, sih?

​​”Maaf, Pak,” ujar Nirmala tiba-tiba. “Duduk di depan aja. Di belakang banyak barang-barang saya.”

​​Denny menghela napas, lalu menutup pintu dan pindah ke kursi depan. Setelah duduk di sebelahnya, ia baru yakin sepenuhnya bahwa Nirmala memang orang yang sama dengan orang yang ada di foto.

​​Mobil itu keluar dari area kantor, melewati pos satpam dan palang otomatis. Seperti yang sudah diduga, jalanan di kala hujan memang cukup macet. Ketika melewati kolong jalan layang, Corolla tua itu terpaksa merayap pelan melewati para pengemudi sepeda motor yang sedang berteduh.

“Udah lama jadi driver, Mbak?” tanya Denny berbasa-basi.

Sebenarnya ia agak geli dengan pertanyaan itu. Ia merasa seperti Kepala HRD sebuah perusahaan yang sedang mewawancarai pelamar kerja. Namun menurut pengalamannya, pertanyaan itu biasanya cukup efektif untuk memancing obrolan. Ia selalu membayangkan akan ada cerita menarik dari mulut orang-orang yang ia temui secara acak dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menebak, di balik penampilan kusutnya, Nirmala pastilah menyimpan kisah menarik. Mungkin ia adalah seorang mahasiswi yang sedang mencari penghasilan tambahan untuk membiayai kuliahnya? Mungkin ia sudah lulus kuliah dan kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap? Atau mungkin ia adalah seorang ibu muda yang ditinggal mati suaminya dan harus mencari nafkah seorang diri?

“Hampir setahun, Pak,” jawab Nirmala, singkat.

“Ooh. Memang full time atau ….”

Part time, buat sambilan aja,” jawab Nirmala memotong pertanyaan Denny.

“Sehari-harinya kerja di mana?” selidik Denny.

“Semacam freelance juga sih, tapi … ya, agak sulit dijelasin. Pokoknya ada, lah,” jawab Nirmala.

Denny hanya bisa mengangguk-angguk, seolah mengerti. Tentu saja di zaman sekarang banyak jenis pekerjaan spesifik yang terlalu sulit dijelaskan kepada orang awam: data analyst, bitcoin miner, political buzzer, professional cuddler. Namun andai Nirmala bersedia menjelaskan, ia pasti bersedia mendengarkan dan mengolahnya menjadi obrolan yang menarik. Sayangnya, Nirmala tidak berminat menjelaskan, dan itu membuatnya merasa diremehkan. Dia bukan boomer dan ia tidak gaptek-gaptek amat.

Selama beberapa menit, mereka terdiam. Denny memandangi wiper di kaca depan mobil yang sibuk bergerak ke kanan dan ke kiri, seperti bandul ahli hipnosis yang ingin memanipulasi kesadarannya. Merasa mulai canggung, akhinya ia mencoba menggunakan jurus basa-basi kedua: bicara soal cuaca.

“Hujannya deras dari tadi siang. Kayaknya banyak jalanan yang banjir, ya?” tanya Denny.

“Iya. Belakangan ini emang banyak yang banjir,” tanggap Nirmala.

Denny ingin menanyakan apakah menurutnya banjir ini adalah salah Gubernur, salah Presiden, salah masyarakat, atau azab atas dosa-dosa para ahli-maksiat, tapi tiba-tiba saja Nirmala menginjak rem mobil dan membuat jantungnya nyaris copot. Mobil di depan mereka berhenti secara mendadak.

“Bangsat!” umpat Nirmala dengan berbisik, lalu menekan klakson mobil sekencang mungkin.

Denny berusaha tertawa kecil sambil menimpali bahwa pengemudi mobil di depan mereka memang tidak becus menyetir.

“Ini emang macet banget,” ucap Nirmala. “Kita lewat jalan alternatif, ya?”

“Boleh, Mbak,” jawab Denny.

Ia tidak tahu jalan alternatif mana yang dimaksud, tapi tampaknya Nirmala sangat yakin dengan keputusannya. Ia bahkan mematikan aplikasi peta di ponsel yang sejak tadi terpasang di dashboard mobilnya.

Ketika kemacetan di depan mereka agak renggang, Nirmala segera membanting setir ke kiri. Mobil-mobil di belakang mereka kompak membunyikan klakson. Ia tidak peduli. Ia segera mengambil bahu jalan dan berbelok ke jalan kecil dengan aspal berlubang serta lampu jalan yang redup.

Deny merasa sedikit aneh, tapi ia mengabaikan kecurigaannya. Memangnya apa yang bisa dilakukan perempuan itu kepada dirinya? Andai gender mereka dibalik, mungkin ia wajib merasa khawatir.

Namun ia teringat pada beberapa kasus yang pernah ia baca di internet: tentang penumpang yang masuk ke dalam taksi tanpa menyadari bahwa ada orang lain yang bersembunyi di kursi belakang taksi itu. Orang itu akan keluar ketika mobil melintasi jalan yang sepi, kemudian menyergap si penumpang dan merampok atau membunuhnya.

Jangan-jangan, mereka sengaja memasang pengemudi perempuan untuk mengecoh calon korbannya?

Denny mulai khawatir. Sedikit-sedikit ia menoleh ke kursi belakang. Ada siapa di sana? Dua buah peti misterius dan tas ransel Hello Kitty masih berada di posisinya semula. Ia membayangkan, apakah mungkin ada penjahat yang bersembunyi di balik peti dan ransel itu?

“Kita lewat mana ya, Mbak?” tanyanya.

“Jalan pintas, Pak,” jawab Nirmala singkat. Sementara itu, lewat kaca jendela, ia tak lagi melihat kendaraan lain yang melintas di dekat mereka. Samar-samar, ia dapat melihat deretan pabrik yang ditutupi pagar tinggi, sebuah warung kopi tanpa pelanggan, kemudian pohon-pohon rimbun dan jalanan yang semakin berbatu.

Denny mencoba menenangkan dirinya, kemudian mengambil napas dalam. Pada saat itulah ia menyadari bahwa mobil yang ia tumpangi memiliki aroma yang tak biasa. Awalnya ia mengira aroma yang ia hirup berasal dari campuran berbagai benda yang disimpan di mobil. Apalagi si pemilik mobil memang sepertinya tidak pandai merawat kendaraannya. Namun setelah mengingat-ingat, akhirnya ia sadar bahwa aroma yang ia hirup adalah wangi kemenyan.

Lampu mobil menyorot jalanan gelap di hadapan mereka. Ia memutuskan meraih ponselnya dan membuka aplikasi Maps, lalu mengetikkan lokasi rumahnya sebagai tujuan. Untunglah di lokasi itu masih ada sinyal GPS, meskipun lemah. Benar saja, aplikasi peta menunjukkan bahwa mereka berada di jalur yang jauh memutar dari rute yang disarankan.

Putar balik, kata aplikasi. Putar balik.

Jantung Denny berdetak semakin kencang.

“Kayaknya kita salah jalan deh, Mbak, lewat sini malah semakin jauh” gumam Denny, melirik ke arah Nirmala yang menampakkan ekspresi datar.

“Lebih jauh tapi lebih sepi.” jawab Nirmala pelan, nyaris berbisik.

Putar balik.

Denny merasa sudah boleh panik sekarang.

Putar balik.

“Saya turun di sini aja deh soalnya ….”

Belum selesai Denny mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara dari kursi belakang. Bukan suara tabrakan, bukan pula suara bagasi yang terbuka sendiri, melainkan suara isak tangis anak perempuan.

Ia menelan ludah, kemudian sedikit menoleh dan melirik ke kursi belakang dengan sudut matanya. Samar-samar, ia masih dapat melihat dua buah peti dan tas ransel Hello Kitty tadi. Bedanya, tas ransel itu kini sedang digendong oleh seorang anak kecil dengan rambut berkepang dua.

Denny memejamkan matanya sesaat, kemudian membukanya lagi sambil berharap apa yang dilihatnya tadi hanyalah ilusi. Namun anak kecil itu masih di situ, masih menangis terisak sambil menutupi wajahnya.

“Itu … itu siapa?” tanya Denny sambil menatap Nirmala.

Nirmala memperlambat laju mobilnya kemudian melihat spion tengah.

“Siapa?” ia bertanya balik.

“Ada anak kecil,” jawab Denny, kemudian kembali memperhatikan anak itu. Beragam dugaan menari-nari dalam kepalanya. Apakah pengemudi taksi online ini adalah seorang penculik anak? Apakah anak itu kebetulan bisa melepaskan diri setelah disekap di kursi belakang mobil?

“Anak kecil?” tanya Nirmala lagi.

Denny mengangguk. Anak itu menangis semakin nyaring. Isakannya berubah menjadi raungan, kemudian rintihan.

“Bapak bisa lihat dia?”

Pertanyaan Nirmala kali ini membuat Denny lemas. Apalagi ketika tiba-tiba saja anak itu membuka kedua telapak tangannya. Di dalam mobil yang gelap, samar-samar Denny dapat melihat wajah anak itu berwarna kemerahan, seolah ada bara yang menyala di balik lapisan kulitnya. Kedua lubang matanya kosong, tak ada bola mata di sana, tetapi ada cairan yang terus mengericik keluar seperti sepasang air terjun kecil.

Napas Denny mulai terasa sesak.

Putar balik.

“Berhenti! Saya turun di sini! Berhenti!” jerit Denny panik.

“Tenang, Pak. Jangan takut. Tenang,” ucap Nirmala sambil menepikan mobilnya.

Denny mencoba membuka pintu mobil, tapi rupanya pintu itu masih terkunci.

“Buka! Buka pintunya!”

Air terjun masih terus mengalir dari lubang mata gadis kecil itu. Ia merintih semakin keras. Sementara itu, peti kayu di sebelahnya bergerak-gerak, kemudian terdengar suara ketukan-ketukan nyaring dari dalamnya. Denny menahan napas. Peti itu terbuka, kemudian dari dalamnya keluar sepotong tangan manusia yang berjalan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya. Tak lama, satu potong tangan lainnya menyusul keluar dari peti. Kedua potongan tangan yang hidup itu melompat ke atas jok mobil, kemudian jatuh ke lantai dan mulai berjalan ke arah kursi depan.

Denny menjerit.

Klek!

Pintu mobil akhirnya terbuka. Denny menjatuhkan dirinya ke luar mobil, kemudian berguling di atas rumput. Dengan lutut yang terasa sangat lemas, ia berusaha bangkit, kembali terjatuh, kemudian merangkak sambil menjerit serak.

Sementara itu, di dalam mobil, Nirmala berusaha memanggilnya kembali.

“Pak, tunggu sebentar! Jangan pergi!”

“Tolong! Tolong!” Denny menjerit sambil merangkak menjauh dari mobil.

“Jangan di-reportPlease! Bintang limanya, Pak!”

Nirmala tahu bahwa permintaannya itu sia-sia. Sekali lagi, ia kehilangan penumpangnya.

“Tai!” makinya sambil membanting pintu mobil hingga tertutup rapat.

Sambil menggerutu, ia melirik ke spionnya. Si gadis kecil masih menangis, sementara sepasang tangan buntung terus memanjat ke kursi depan.


Photo bPhoto by C. Cagnin from Pexels

Facebook Comments

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).