Raja

Foto: CNN Indonesia

Kami ter­di­am di tengah kema­cet­an lalu lin­tas. Ia di kur­si kemu­di, men­co­ba ber­sa­bar mema­ink­an kopling dan rem, semen­ta­ra aku mem­ba­ca lini­ma­sa Facebook yang sedang diri­u­hi pos­ting­an ten­tang keda­tang­an Raja Arab Saudi.

Di tengah ketim­pang­an eko­no­mi ini, ter­nya­ta banyak juga ya, rakyat Indonesia yang bang­ga meli­hat keka­ya­an dan keme­wah­an Raja Saudi,” gumam­ku sam­bil mere­bahk­an pung­gung dan mem­be­tulk­an posi­si sabuk pengam­an.

Memangnya kena­pa?” tanya­nya, masih sun­tuk meman­da­ngi kema­cet­an tan­pa ujung.

Aku kira orang-orang akan cem­bu­ru meli­hat kelu­ar­ga kera­ja­an super­ka­ya itu, apa­la­gi diban­dingk­an dengan kon­di­si kehi­dup­an mere­ka yang mela­rat,” jawab­ku.

Jangan naif. Tidak semua orang mis­kin cem­bu­ru kepa­da orang kaya. Ada juga yang sudah ikh­las mene­ri­ma kas­ta sosi­al­nya. Melihat orang kaya, mere­ka akan mera­sa kagum. Apalagi kalau orang kaya itu seo­rang raja.”

Lho, memang­nya kena­pa kalau raja? Raja orang lain, buk­an raja mere­ka,” tanya­ku, men­co­ba men­de­bat­nya.

Memang buk­an, tapi mere­ka rin­du memi­li­ki seo­rang raja,” ujar­nya, mobil mela­ju bebe­ra­pa meter, “dan menu­rut­ku, orang Indonesia memang lebih cocok hidup dalam sis­tem kera­ja­an.”

Kenapa?”

Itu karak­ter orang Indonesia pri­bu­mi sela­ma ber­a­bad-abad. Demokrasi a la Barat ada­lah sis­tem asing yang baru masuk kema­rin sore, kurang cocok dengan kul­tur kita. Lagipula, sis­tem kera­ja­an itu lebih efi­si­en dan efek­tif. Semua orang fokus dengan bidang­nya masing-masing. Tidak seper­ti seka­rang, semua orang dipak­sa mem­bu­at pilih­an di luar kapa­si­tas­nya. Hasilnya? Geser terus lini­ma­sa Facebook-mu, dan kamu akan lihat beta­pa bodoh pilih­an yang mere­ka buat.”

Aku agak kesal men­de­ngar pen­je­la­san­nya itu. Aku tidak suka mem­ba­yangk­an hidup dalam sis­tem yang meng­i­zink­an sege­lin­tir orang men­da­patk­an sta­tus sosi­al eks­klu­sif hanya kare­na hubung­an darah, see­fek­tif dan see­fi­si­en apa pun peme­rin­ta­han­nya. Namun aku dapat mema­ha­mi­nya. Ia sudah mera­sa putus asa dengan kon­di­si nega­ra ini. Ia tam­pak lelah. Aku pun memu­tusk­an untuk meng­gan­ti topik pem­bi­ca­ra­an.

Saat sedang asyik mem­ba­has meme Polwan can­tik, tiba-tiba sua­ra siri­ne ter­de­ngar nya­ring di bela­kang kami. Mobil-mobil ber­u­sa­ha ber­ge­rak ke ping­gir, tapi kon­di­si jal­an ter­la­lu padat untuk ber­ge­rak. Sirine di bela­kang sema­kin nya­ring, mera­ung-raung. Ia memu­tar setir­nya dengan gusar.

Pejabat kamp­ret! Sok pen­ting!” maki­nya saat meli­hat sed­an hitam mela­ju di sebe­lah kami, dii­ri­ngi bebe­ra­pa penga­wal.

Perbankan Gaib

Sampean tidak per­ca­ya saya bisa meng­gan­dak­an uang?” tanya Eyang Sanca, alis­nya meng­e­rut dan posi­si duduk­nya maju ke arah­ku.

Nggak per­ca­ya. Mana mung­kin uang bisa digan­dak­an? Apa Eyang pikir saya ini orang kam­pung yang bisa dibo­do­hi? Saya ini orang kota, ber­pen­di­dik­an!” jawab­ku sam­bil menah­an tawa.

Eyang Sanca mena­rik napas dalam, lalu meng­u­rut-urut jeng­got­nya. “Pernah ke bank, kan?”

Pernah dong!” jawab­ku.

Sampean jangan kaget kalau saya bilang, bank itu sama seper­ti saya, sama-sama dukun peng­gan­da uang!”

Aku ber­de­ham, seper­ti­nya aku mulai paham jal­an piki­ran­nya, tapi aku ingin meng­u­ji­nya sedi­kit. “Maksud Eyang?”

Kalau sam­pe­an per­gi ke bank, masu­kin uang di tabung­an, depo­si­to, atau inves­ta­si lain­nya, uang sam­pe­an ber­tam­bah banyak, kan?” ujar­nya sam­bil meli­pat tangan di dep­an dada.

Iya, saya tau itu.”

Nah, apa beda­nya? Uang sam­pe­an sama-sama jadi ber­li­pat gan­da tan­pa sam­pe­an harus ker­ja dan cuma tidur-tidur­an di rumah. Berarti, kon­sep meng­gan­dak­an uang itu buk­an sesu­a­tu yang ndak masuk akal. Iya toh?”

Kutatap raut muka­nya. Aku tak bisa mere­mehk­an dukun ini, ter­nya­ta ia pin­tar ber­ke­lit juga.

Kalau Eyang sama saja dengan bank, lalu buat apa saya per­gi ke Eyang? Lebih enak ke bank, bia­ya admi­nis­tra­si­nya lebih ren­dah; kan­tor­nya sejuk pakai AC, nggak bau keme­ny­an seper­ti ini; petu­gas­nya juga per­em­pu­an can­tik, buk­an kakek-kakek peyot begi­ni,” ucap­ku pel­an.

Jangan kurang ajar, ya!” sua­ra­nya mening­gi. “Biar saya kasih tau kena­pa saya lebih hebat, bunga yang saya tawark­an itu lima ratus per­sen! Lebih ting­gi dari bank mana pun!”

Tawaku ham­pir mele­dak men­de­ngar pen­je­la­san­nya. Jelas-jelas dia ingin meni­pu­ku. “Omong kosong! Mana bisa bunga sebe­sar itu? Diinvestasikan untuk bis­nis apa uang saya? Saham apa?”

Investasi gaib!”

Apaan gaib?”

Ini per­bank­an gaib! Jelas beda dengan per­bank­an kon­ven­sio­nal!”

Ia meng­e­lu­ark­an sebu­ah buku dari kan­tong keme­ja batik­nya. Sebuah buku tabung­an ber­war­na hitam dengan tulis­an putih “Bank Gaib, Sanca Bank”.

Ia men­je­lask­an, “Sampean tau, kan, kalau nilai mata uang itu beda-beda? Nilai dolar Amerika lebih besar dari nilai rupi­ah, misal­nya. Sekarang biar saya kasih tau, nilai mata uang di dunia gaib itu nila­i­nya ber­a­tus-ratus kali lipat dari nilai rupi­ah!”

Mata uang gaib? Apa lagi itu?”

Sampean belum per­nah ke alam jin, kan? Pantas ndak tau. Saya bisa kasih bunga sam­pai lima ratus per­sen kare­na saya ini men­ja­lank­an usa­ha per­bank­an dan per­e­ko­no­mi­an anta­rdi­men­si, tepat­nya alam manu­sia dengan alam jin,” jelas­nya. “Ndak semua orang bisa, cuma dukun yang punya keku­at­an saja yang bisa”

Aku meng­he­la napas. Menarik juga dukun ini.

Ayam Saja Bisa Hidup

Pak Ade bingung. Pengeluaran keu­a­ngan­nya ter­a­sa tidak ter­ken­da­li. Baru saja satu ming­gu pasca-gaji­an, tapi saldo di reke­ning­nya ting­gal seu­jung kuku. Ia tidak tahu ke mana saja uang­nya ia belan­jak­an. Sebagian untuk jaj­an, seba­gi­an untuk hura-hura, seba­gi­an lagi untuk menun­jang gaya hidup, tapi tak ada alo­ka­si untuk tabung­an, apa­la­gi inves­ta­si.

Ia pun duduk di dep­an rumah­nya, mema­kai sarung dan kaos oblong, sam­bil meng­o­brol dengan anak dan istri­nya. Istrinya ber­ke­luh kesah men­de­ngar kon­di­si keu­ang­an kelu­ar­ga. Ia menya­lahk­an Pak Ade yang bela­kang­an hobi meng­o­lek­si batu akik, bahk­an mem­be­li bebe­ra­pa batu dengan har­ga fan­tas­tis hanya kare­na dibu­juk tem­an-teman­nya. Sementara itu, Pak Ade dengan san­tai menya­lahk­an istri­nya yang sering kalap belan­ja onli­ne, mem­be­li baju dan sepa­tu yang cuma sese­ka­li dipa­kai saat per­gi ke undang­an. Anak mere­ka yang masih TK tidak meng­er­ti apa-apa, tidak paham kalau sebe­nar­nya ia juga ikut disa­lahk­an kare­na sering mere­ngek min­ta dibe­lik­an main­an BoBoiBoy dan Avengers. Continue rea­ding Ayam Saja Bisa Hidup

Jam Tua yang Menolak Waktu

Orang bilang, jam yang rusak akan tetap menun­jukk­an kebe­nar­an, mini­mal dua kali dalam seha­ri. Namun hal itu tidak ber­la­ku pada jam tua di rumah­ku. Kedua jarum­nya ber­hen­ti di ang­ka dua belas. Anehnya, seti­ap kali pukul dua belas tiba, jarum pan­jang jam itu akan mun­dur satu menit, lalu kem­ba­li lagi ke tem­pat semu­la satu menit kemu­di­an. Seolah-olah jam itu sela­lu meno­lak untuk men­ja­di benar.

Sejak diwa­risk­an oleh almar­hum kakek­ku dua tahun yang lalu, jam itu men­ja­di bang­kai yang ber­di­ri men­ju­lang di pojok kamar, meng­a­wa­si keti­ka kami tidur sam­bil mem­bu­at sem­pit ruang­an dengan badan­nya yang besar dan hitam. Istriku sering kali ter­ba­ngun pada tengah malam kare­na mera­sa akan ditim­pa oleh ben­da itu, kemu­di­an penya­kit asma­nya akan kam­buh dan aku harus meng­am­bilk­an inha­ler dari dalam laci.

Sudah lama aku ingin men­ju­al jam itu, tapi tak ada yang meng­ang­gap ben­da itu cukup ber­har­ga untuk ditu­kar dengan uang. Suatu hari, aku men­co­ba meng­u­tak-atik­nya sen­di­ri. Aku buk­an ahli repa­ra­si jam antik, tapi ber­da­sark­an infor­ma­si yang kuda­patk­an dari inter­net, aku tahu bah­wa jam itu seha­rus­nya tak bisa ber­ge­rak lagi kare­na ran­tai pem­be­rat di dalam­nya sudah tak per­nah dita­rik. Entah keku­at­an apa yang mem­bu­at­nya sela­lu ber­ge­rak seti­ap pukul dua belas. Merasa geram, kupa­ku jarum pan­jang jam itu di ang­ka dua belas, memak­sa­nya untuk men­ja­di benar.

Malamnya, keti­ka ham­pir pukul 12 tepat, kuli­hat jarum pan­jang jam itu men­co­ba mem­be­ron­tak. Ia ber­u­sa­ha mun­dur dan maju satu menit, tapi ter­tah­an oleh paku yang kupa­sang. Aku ter­ta­wa meli­hat­nya, seka­rang ia tak bisa lari lagi dari kebe­nar­an. Setelah puas “mem­ba­las den­dam” pada jam tua itu, aku pun naik ke tem­pat tidur sam­bil ber­en­ca­na mem­bu­ang ben­da rong­sok­an itu besok pagi.

Rasanya aku sudah tidur lama seka­li, tapi keti­ka ter­ba­ngun, kamar masih gelap. Istriku masih tidur dan tidak ada sinar mata­ha­ri yang mene­ro­bos tirai jen­de­la. Kuperiksa jam di pon­sel, dan beta­pa ter­ke­jut­nya aku kare­na ang­ka digi­tal itu masih menun­jukk­an pukul 00.00. Aku menung­gu dalam wak­tu yang kupi­kir sudah ham­pir lima menit, tapi jam di pon­sel tetap sama, tetap pukul nol-nol-nol-nol.

Aku ber­ge­ming di atas tem­pat tidur­ku dalam wak­tu yang sangat lama, yang tak ingin kuhi­tung sama seka­li. Istriku tak per­nah bangun; mata­ha­ri tak per­nah ter­bit. Bahkan tan­pa per­lu meme­rik­sa­nya ter­le­bih dahu­lu, aku tahu bah­wa jam tangan­ku, jam din­ding di ruang tamu, jam besar di alun-alun kota, dan semua jam di dunia ini telah ber­hen­ti ber­pu­tar. Jam tua itu tak per­nah tun­duk men­ja­di pengi­kut, ia memi­li­ki wak­tu­nya sen­di­ri.

New High Score!

Sejak kube­lik­an X-Box dan Kinect seba­gai kado ulang tahun­nya, adik­ku sema­kin hobi ber­ma­in video game. Ia melom­pat-lom­pat dan mena­ri-nari di dep­an tele­vi­si seti­ap pulang seko­lah. Kupikir ini ada­lah ide bagus. Selama ini ia sela­lu ber­ma­in game dengan duduk di dep­an kom­pu­ter atau tidur­an di atas kasur sam­bil meme­gang pon­sel. Ia jadi jarang ber­ge­rak, semen­ta­ra aku kha­wa­tir ber­at badan­nya yang sema­kin ber­tam­bah akan mem­bu­at tubuh­nya tak sehat. Dengan game jenis baru ini, seti­dak­nya per­e­dar­an darah­nya men­ja­di lebih lan­car, ia juga jadi tam­pak lebih ber­se­ma­ngat.

Kadang-kadang, aku ber­ma­in dengan­nya pada hari libur atau keti­ka aku pulang ker­ja lebih awal. Permainan yang sedang ia gan­dru­ngi ada­lah sebu­ah pla­tform game yang meng­ha­rusk­an pema­in melom­pat-lom­pat agar tokoh dalam game tidak jatuh ke dalam jurang. Permainan itu sangat adik­tif. Musiknya menye­nangk­an, sis­tem skor yang digu­nak­an juga mem­bu­at kami ber­lom­ba-lom­ba untuk meng­ung­gu­li satu sama lain. Aku pun menyu­ka­i­nya dan nya­ris keta­gih­an. Namun lama kela­ma­an aku sadar, adik­ku sudah mulai kelu­ar batas. Kadang ia ber­ma­in hing­ga larut malam, bahk­an pada pagi hari ia menyem­patk­an diri untuk ber­ma­in sebe­lum sarap­an. Aku tak bisa mem­bi­ar­kan­nya mela­kuk­an akti­vi­tas fisik yang ber­le­bih­an, sebab sejak kecil ia memi­li­ki kon­di­si jan­tung yang agak lemah.

Akhirnya, dengan ber­at hati, aku mem­bu­at per­a­tur­an. Ia hanya boleh ber­ma­in pada hari Sabtu dan Minggu, sele­bih­nya ia harus bela­jar atau mela­kuk­an akti­vi­tas lain yang tidak ter­la­lu mele­lahk­an. Aku ber­u­sa­ha tegas. Sejak orang tua kami mening­gal, aku­lah yang ber­tang­gung jawab untuk men­ja­ga­nya.

Kukira ia benar-benar menu­rut. Sejak kubu­at per­a­tur­an itu, aku memang tak per­nah lagi meli­hat ia melom­pat-lom­pat di dep­an tele­vi­si sete­lah pulang seko­lah. Namun adik­ku itu tak hanya lemah seca­ra fisik, ia juga bebal dan keka­nak-kanak­an, bahk­an kura­sa ia agak ter­be­la­kang seca­ra men­tal.

Suatu malam, aku ter­ba­ngun dari tidur­ku kare­na harus buang air kecil. Ketika hen­dak kem­ba­li ke dalam kamar, aku menya­da­ri ada caha­ya-caha­ya yang tidak bia­sa dari ruang tengah. Aku meme­rik­sa ruang­an itu dan men­da­pa­ti adik­ku sedang ber­ma­in video game diam-diam dengan lam­pu ruang­an yang dima­tik­an dan sua­ra yang dike­cilk­an. Aku mema­ra­hi­nya habis-habis­an. Kupaksa ia mema­tik­an tele­vi­si dan masuk ke dalam kamar­nya. Ia memin­ta maaf dan ber­jan­ji bah­wa ia tidak akan meng­u­la­ngi­nya lagi. Rupanya ia sangat pena­sar­an ingin meme­cahk­an high sco­re yang kuce­tak ming­gu lalu. Alasan yang keka­nak-kanak­an seka­li.

Sayangnya, sete­lah keja­di­an itu, aku masih saja tak bisa tegas. Seharusnya aku menyem­bu­nyik­an X-Box itu dan meng­un­ci­nya di dalam lema­ri. Namun aku malah mem­bi­ar­kan­nya di tem­pat semu­la, entah kare­na malas atau ter­la­lu per­ca­ya pada jan­ji adik­ku. Hingga pada sua­tu malam, aku menye­sa­li kela­la­i­an­ku itu.

Saat itu aku harus ker­ja lem­bur hing­ga pukul sebe­las malam. Aku sudah meme­sank­an makan­an untuk adik­ku lewat deli­very servi­ce dan ber­pes­an agar ia sege­ra tidur sete­lah meng­er­jak­an PR. Namun saat aku pulang tengah malam itu, aku menya­da­ri bah­wa tele­vi­si dan X-box sedang menya­la di ruang tengah. Ia meng­u­la­ngi­nya lagi. Namun kali ini adik­ku tidak sedang melom­pat-lom­pat, ia sudah ter­ka­par di atas lan­tai, tak ber­ge­rak sedi­kit pun. Jantungnya sudah tidak ber­de­tak. Aku ter­lam­bat.

Aku dirun­dung kese­dih­an sejak keja­di­an itu. Aku mera­sa gagal meng­emb­an ama­nat kedua ora­ngtu­a­ku. Selama ham­pir dua ming­gu lama­nya, aku tak bisa menon­ton tele­vi­si di ruang tengah kare­na hal itu hanya akan mem­bu­at­ku dep­re­si. Hingga pada sua­tu sore di akhir pek­an, aku memu­tusk­an untuk bang­kit dan meng­ha­da­pi kese­di­han­ku sen­di­ri. Aku tak boleh ber­la­rut-larut. Kunyalakan X-Box dan tele­vi­si, lalu kuco­ba mema­ink­an game yang dulu dima­ink­an adik­ku. Hanya dengan begi­tu­lah aku bisa pulih dan meng­i­kh­lask­an keper­gi­an­nya.

Setelah bebe­ra­pa kali ber­ma­in, aku menya­da­ri bah­wa high-sco­re yang kuce­tak seti­ap sore sela­lu saja dipe­cahk­an. Bukan oleh­ku, tapi oleh pema­in lain. Mungkinkah aku per­nah salah mema­sukk­an nama dan–karena ter­la­lu sedihnya–malah mema­sukk­an nama almar­hum adik­ku sen­di­ri?

Kemarin malam, aku ter­ba­ngun dari tidur kare­na uda­ra ter­a­sa panas dan aku mera­sa haus. Waktu itu kira-kira pukul sete­ngah satu dini hari. Aku meng­am­bil minum di dapur dan ber­ni­at untuk kem­ba­li ke kamar. Namun saat melin­ta­si ruang tengah, aku meli­hat caha­ya-caha­ya ber­ki­lat­an samar. Kulangkahkan kaki­ku ke arah ruang­an itu. Pikirku, mung­kin sebe­lum tidur aku lupa mema­tik­an tele­vi­si, Namun keti­ka lang­kah­ku sema­kin dekat, aku bisa men­de­ngar sua­ra musik yang sangat fami­li­ar di teli­nga­ku.

Aku meng­in­tip dari balik din­ding. Lututku lemas, seku­jur tubuh­ku merin­ding. Di sana, di dep­an tele­vi­si dan X-Box, aku dapat meli­hat sia­pa yang sela­ma ini sela­lu meme­cahk­an skor­ku. Adikku sen­di­ri. Adikku yang sudah mening­gal melom­pat-lom­pat di tengah ruang­an yang gelap. Cahaya war­na-war­ni dari layar tele­vi­si menyi­na­ri wajah­nya yang pucat, mata­nya yang putih men­de­lik, dan bibir­nya yang hitam tan­pa eksp­re­si. Setiap kali ia men­da­rat, lalu melom­pat lagi, aku dapat men­de­ngar sua­ra gesek­an samar dari kain kaf­an yang masih mem­bung­kus tubuh­nya. Entah bera­pa kali ia melom­pat, aku tak meng­hi­tung­nya, sebab aku jatuh pings­an keti­ka sua­ra dari game ber­te­ri­ak nya­ring, “New high sco­re!”

 


Foto oleh: Morgan
Lisensi: Attribution 2.0 Generic

Lemari Pemakan Rambut

 

Widya tidak paham kena­pa lema­ri tua itu sela­lu memak­an ram­but­nya. Setiap kali ia duduk ber­san­dar di pin­tu lema­ri, satu atau dua helai ram­but­nya sela­lu ter­je­pit dan putus. Pagi tadi, lema­ri itu kem­ba­li memak­an ram­but­nya seba­gai sarap­an. Saat itu Widya sedang ber­so­lek sam­bil duduk mem­be­la­ka­ngi lema­ri, dan keti­ka ia bang­kit ber­di­ri, ia men­je­rit kesa­kit­an kare­na kepa­la­nya ter­a­sa dita­rik dengan kuat. Ia meno­leh. Dua helai ram­but hitam pan­jang­nya men­jun­tai di sela pin­tu lema­ri. Continue rea­ding Lemari Pemakan Rambut

Toilet

1-1242736074LgREPsykopainted

Mulanya cuma ker­an was­ta­fel yang ter­bu­ka sen­di­ri. Air meng­u­cur deras tiba-tiba; seo­rang kar­ya­w­an yang sedang meng­e­ringk­an tangan melom­pat kaget. Ia sege­ra kelu­ar dari toi­let kan­tor dengan tubuh merin­ding dan lutut lemas. Sambil sete­ngah ber­la­ri, ia masuk kem­ba­li ke dalam ruang ker­ja, kem­ba­li ber­sa­ma kami yang sedang beker­ja lem­bur meng­e­jar teng­gat.

Ketika ia men­ce­ri­tak­an penga­la­man­nya dengan ter­ba­ta-bata, aku tak meng­ang­gap seri­us. Ketakutan dalam diri sese­o­rang bisa mem­bu­at sega­la hal di dalam toi­let jadi mena­kutk­an, misal­nya penge­ring tangan yang menya­la sen­di­ri kare­na ter­seng­gol lengan, pin­tu kamar kecil yang sulit ter­bu­ka kare­na ber­ka­rat, atau Continue rea­ding Toilet

Terbenam

Sebagian orang meng­e­nak­an biki­ni atau cela­na renang, seba­gi­an lagi meng­e­nak­an kaos dan cela­na pen­dek khas pan­tai, tapi semu­a­nya meng­ha­dap ke arah yang sama: ke barat. Langit sudah mulai ber­se­mu jing­ga keti­ka kami tiba di tepi pan­tai yang ramai itu. Tanggal merah di hari Kamis ini telah men­cip­tak­an hari libur baru sela­ma empat hari bagi keba­nyak­an orang. Ayahku menye­wa sebu­ah kamar yang letak­nya tak jauh dari tepi pan­tai meng­gu­nak­an uang tabu­ngan­nya. Niatnya sudah bulat sejak sebul­an yang lalu: bila uang­nya sudah cukup, ia akan mem­ba­wa kami meli­hat mata­ha­ri ter­be­nam di pan­tai.

Semua ini ber­mu­la dari kar­tu pos tua yang ia temuk­an saat sedang mere­no­va­si kamar tidur­nya. Kartu pos itu ber­i­si lukis­an mata­ha­ri ter­be­nam yang seper­ti­nya dibu­at meng­gu­nak­an tangan. Itu ada­lah masa keti­ka semua orang belum memi­li­ki kame­ra di saku mere­ka dan belum memi­li­ki ema­il untuk meng­i­rimk­an pes­an ber­gam­bar. Di bela­kang kar­tu pos itu ada sebu­ah pui­si yang Ayah tulis untuk Ibu, sebu­ah jan­ji untuk meli­hat mata­ha­ri ter­be­nam ber­sa­ma. Ia baru ingat bah­wa jan­ji itu tak per­nah benar-benar ter­pe­nu­hi, bahk­an sete­lah mere­ka meni­kah dan memi­li­ki aku dan adik­ku, bahk­an sete­lah sebul­an yang lalu Ibu mening­gal dunia.

Sebentar lagi mata­ha­ri­nya ter­be­nam,” ucap Ayah sam­bil meng­ge­lar tikar dan meng­a­jak kami duduk di sam­ping­nya.

Adikku, Beni, sedang ter­pa­na meli­hat ista­na pasir yang dibu­at seo­rang pengun­jung. Kubujuk dia untuk mera­pat. “Membuat ista­na pasir bisa dila­kuk­an esok hari, seka­rang saat­nya meli­hat mata­ha­ri.” Beni menu­rut. Ia duduk di anta­ra aku dan Ayah.

Langit sema­kin merah. Matahari ber­u­bah men­ja­di seper­ti telur, caha­ya­nya tak lagi menu­suk mata. Perlahan-lah­an, bola jing­ga itu turun ke bawah, ham­pir menyen­tuh cak­ra­wa­la. Ayah mung­kin ter­i­ngat pada kar­tu pos itu, tapi aku sudah pas­ti ter­i­ngat pada desk­top wallpa­per yang sering aku lihat di layar kom­pu­ter. Intinya tetap sama, manu­sia sela­lu ingin mere­kam hal-hal mena­kjubk­an dari penga­lam­an mere­ka. Matahari ter­be­nam ada­lah sebu­ah penga­lam­an mena­kjubk­an. Sebagian orang meng­hu­bung­kan­nya dengan kese­dih­an dan per­pi­sah­an kare­na menan­dak­an ber­a­khir­nya hari. Bagiku, mata­ha­ri ter­be­nam ada­lah momen retros­pek­si. Ketika meli­hat seba­gi­an bola jing­ga itu teng­ge­lam ke dalam laut­an, kami mem­ba­yangk­an seba­gi­an hidup kami yang juga sudah teng­ge­lam ber­sa­ma ber­la­lu­nya wak­tu. Aku meli­hat kilau di mata Ayah. Suatu saat aku akan ber­a­da dalam posi­si­nya, Beni juga.

Sebagian turis ber­te­puk tangan keti­ka akhir­nya mata­ha­ri tam­pak masuk selu­ruh­nya ke dalam laut­an. Beberapa pasang­an ber­pe­luk­an, bahk­an samar-samar kuli­hat ada pula yang ber­ci­um­an. Hari ini sudah usai, tapi semua orang per­ca­ya bah­wa masih ada hari esok tem­pat kami akan mela­kuk­an hal-hal yang lebih baik. Bagi kami, ber­a­khir­nya hari tidak benar-benar ditan­dai oleh ter­be­nam­nya mata­ha­ri. Ayah lebih akrab dengan sua­ra bel pulang kan­tor, aku dan Beni lebih akrab dengan per­u­bah­an aca­ra tele­vi­si men­ja­di azan Maghrib dan sine­tron.

Suasana di seki­tar kami per­lah­an men­ja­di gelap. Tak ada lagi caha­ya ala­mi dari langit, yang ter­si­sa hanya lam­pu-lam­pu buat­an manu­sia yang ber­a­sal dari res­tor­an dan hotel di bela­kang sana. Perlahan-lah­an para pengun­jung bangun dari atas pasir, mene­puk-nepuk pan­tat mere­ka, dan mung­kin ber­si­ap-siap untuk kem­ba­li ke hotel dan menyan­tap mak­an malam. Kami ber­ti­ga juga bangun. Ayah meli­pat kem­ba­li tikar­nya.

Besok jangan lupa bangun pagi,” kata­nya, “kita akan meli­hat mata­ha­ri ter­bit.”

Matahari ter­bit, sim­bol harap­an dan per­mu­la­an dari sega­la kegi­at­an, pena­war dari rasa sen­du peman­dang­an sore ini. Tikar sudah digu­lung, kami pun mem­ba­lik bad­an untuk pulang. Beni masih meno­leh ke bela­kang. Kupanggil nama­nya. Ia pas­ti masih pena­sar­an dengan ista­na pasir tadi. Kupanggil lagi, ia tak juga menya­hut. Akhirnya aku kem­ba­li ber­ba­lik dan ber­ni­at mena­rik tangan­nya. Kusadari, rupa­nya Beni tak lagi mena­tap ista­na pasir, ia mena­tap langit. Di atas sana, langit yang hitam per­lah­an ter­si­bak. Mengintiplah dari balik kege­lap­an itu, sebu­ah bola ber­war­na kuning terang. Kegelapan itu sir­na, caha­ya menye­bar ke sega­la pen­ju­ru. Ada mata­ha­ri lagi.

Semua orang yang telah ber­an­jak per­gi kini mem­ba­likk­an bad­an. Tatapan-tatap­an mata mem­bi­su meli­hat bola caha­ya di hadap­an kami yang tak ter­je­lask­an. Tak ter­je­lask­an. Langit kem­ba­li men­ja­di siang. Semakin siang.

Catatan: Cerita sing­kat ini dibu­at ber­da­sark­an mim­pi saya bebe­ra­pa hari lalu. Saya yakin, banyak juga orang yang sering meng­a­la­mi mim­pi sema­cam ini.

Ilustrasi: http://www.scenicreflections.com/download/397170/Red_Sunset_Painting_Wallpaper/