Suara Mesin, Suara Rakyat

Setelah ber­a­bad-abad, akhir­nya kita menya­da­ri bah­wa manu­sia tidak mam­pu mewa­ki­li aspi­ra­si manu­sia lain. Power ten­ds to cor­rupt. Oleh sebab itu, untuk mewu­judk­an sua­tu demok­ra­si lang­sung yang adil, ber­sih, dan efi­si­en, kita mem­bu­tuhk­an sua­tu alat yang mam­pu meng­e­lo­la, meng­al­ku­la­si, dan meng­ek­se­ku­si aspi­ra­si tiap-tiap war­ga nega­ra dengan rasio­nal, cerdas, tegas, ring­kas, tan­pa bias, dan tan­pa fak­tor-fak­tor emo­sio­nal yang mem­ba­ta­si seo­rang manu­sia.”

Aku sedang mem­ba­ca para­graf itu keti­ka kude­ngar nama­ku dipang­gil lewat penge­ras sua­ra. Kutitipkan buku ber­ju­dul Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar di atas pang­ku­an Aini yang sedang asyik ber­ma­in game pon­sel, kemu­di­an sege­ra melang­kah menu­ju bilik sua­ra. Kotak besi seting­gi tiga meter itu ber­pen­dar kehi­ja­u­an, dan keti­ka aku mem­bu­ka pin­tu­nya, aku dapat meli­hat sebu­ah kur­si dan helm kaca yang ter­gan­tung di atas­nya. Ternyata benar, inte­ri­or bilik sua­ra sudah lebih nyam­an diban­dingk­an Pemilu sebe­lum­nya. Kursinya tam­pak lebih empuk dan pen­ca­ha­ya­an­nya lebih mema­dai.

Seketika, aku ter­i­ngat pada buku yang kuba­ca tadi. Menurut buku itu, dahu­lu kala bilik sua­ra Pemilu hanya ber­i­si selem­bar ker­tas dan paku.


Cerita ini meme­nangk­an Sayembara Fiksi Ilmiah Vol. 2 di Serana 42. Baca seleng­kap­nya.

 

Raja

Foto: CNN Indonesia

Kami ter­di­am di tengah kema­cet­an lalu lin­tas. Ia di kur­si kemu­di, men­co­ba ber­sa­bar mema­ink­an kopling dan rem, semen­ta­ra aku mem­ba­ca lini­ma­sa Facebook yang sedang diri­u­hi pos­ting­an ten­tang keda­tang­an Raja Arab Saudi.

Di tengah ketim­pang­an eko­no­mi ini, ter­nya­ta banyak juga ya, rakyat Indonesia yang bang­ga meli­hat keka­ya­an dan keme­wah­an Raja Saudi,” gumam­ku sam­bil mere­bahk­an pung­gung dan mem­be­tulk­an posi­si sabuk pengam­an.

Memangnya kena­pa?” tanya­nya, masih sun­tuk meman­da­ngi kema­cet­an tan­pa ujung.

Aku kira orang-orang akan cem­bu­ru meli­hat kelu­ar­ga kera­ja­an super­ka­ya itu, apa­la­gi diban­dingk­an dengan kon­di­si kehi­dup­an mere­ka yang mela­rat,” jawab­ku.

Jangan naif. Tidak semua orang mis­kin cem­bu­ru kepa­da orang kaya. Ada juga yang sudah ikh­las mene­ri­ma kas­ta sosi­al­nya. Melihat orang kaya, mere­ka akan mera­sa kagum. Apalagi kalau orang kaya itu seo­rang raja.”

Lho, memang­nya kena­pa kalau raja? Raja orang lain, buk­an raja mere­ka,” tanya­ku, men­co­ba men­de­bat­nya.

Memang buk­an, tapi mere­ka rin­du memi­li­ki seo­rang raja,” ujar­nya, mobil mela­ju bebe­ra­pa meter, “dan menu­rut­ku, orang Indonesia memang lebih cocok hidup dalam sis­tem kera­ja­an.”

Kenapa?”

Itu karak­ter orang Indonesia pri­bu­mi sela­ma ber­a­bad-abad. Demokrasi a la Barat ada­lah sis­tem asing yang baru masuk kema­rin sore, kurang cocok dengan kul­tur kita. Lagipula, sis­tem kera­ja­an itu lebih efi­si­en dan efek­tif. Semua orang fokus dengan bidang­nya masing-masing. Tidak seper­ti seka­rang, semua orang dipak­sa mem­bu­at pilih­an di luar kapa­si­tas­nya. Hasilnya? Geser terus lini­ma­sa Facebook-mu, dan kamu akan lihat beta­pa bodoh pilih­an yang mere­ka buat.”

Aku agak kesal men­de­ngar pen­je­la­san­nya itu. Aku tidak suka mem­ba­yangk­an hidup dalam sis­tem yang meng­i­zink­an sege­lin­tir orang men­da­patk­an sta­tus sosi­al eks­klu­sif hanya kare­na hubung­an darah, see­fek­tif dan see­fi­si­en apa pun peme­rin­ta­han­nya. Namun aku dapat mema­ha­mi­nya. Ia sudah mera­sa putus asa dengan kon­di­si nega­ra ini. Ia tam­pak lelah. Aku pun memu­tusk­an untuk meng­gan­ti topik pem­bi­ca­ra­an.

Saat sedang asyik mem­ba­has meme Polwan can­tik, tiba-tiba sua­ra siri­ne ter­de­ngar nya­ring di bela­kang kami. Mobil-mobil ber­u­sa­ha ber­ge­rak ke ping­gir, tapi kon­di­si jal­an ter­la­lu padat untuk ber­ge­rak. Sirine di bela­kang sema­kin nya­ring, mera­ung-raung. Ia memu­tar setir­nya dengan gusar.

Pejabat kamp­ret! Sok pen­ting!” maki­nya saat meli­hat sed­an hitam mela­ju di sebe­lah kami, dii­ri­ngi bebe­ra­pa penga­wal.

Pohon Titit

1

Satu malam sete­lah dikhit­an, aku duduk ter­me­nung di kamar sam­bil menah­an rasa per­ih dan meman­da­ngi titit­ku yang masih dibung­kus per­b­an. Ayah datang sam­bil mem­ba­wa tum­puk­an amplop. Ia meng­a­jak­ku ber­hi­tung. Kalau uang­ku cukup, kata­nya, aku boleh mem­be­li sepa­tu roda. 

Aku tidak begi­tu mem­per­ha­tik­an keti­ka ia meng­e­lu­ark­an lem­bar­an uang dari seti­ap amplop dan men­ca­tat jum­lah­nya. Saat itu, ada per­ta­nya­an lain yang mem­bu­at kepa­la­ku gatal. Pertanyaan ini bagi orang lain mung­kin ter­a­sa remeh, tapi kelak akan meng­han­tu­i­ku seu­mur hidup. 

Aku ber­ta­nya, ada di mana potong­an kulit titit­ku yang disu­nat itu? 

Ayah ter­ta­wa men­de­ngar­nya. Ia bilang, aku tidak per­lu kha­wa­tir. Potongan kulit titit­ku itu diam­bil dr. Yatno, diku­bur di halam­an bela­kang kli­nik­nya di anta­ra pohon petai dan pot ang­grek. 

Dokter Yatno ada­lah orang yang meng­khi­tan­ku. Ia tam­pak ter­la­lu sangar untuk ukur­an dok­ter yang menyu­nat anak kecil. Wajahnya lebar, hidung­nya besar, dan ia memi­li­ki bre­wok tebal yang mem­bu­at­ku takut. Bahkan seba­gai anak kelas 5 SD saat itu, aku mera­sa penam­pil­an dr. Yatno tidak men­cer­mink­an seo­rang dok­ter yang ber­sih dan higi­e­nis. 

Lantas, untuk apa ia mena­nam potong­an kulit titit­ku? Ayah kem­ba­li ter­ta­wa. Katanya, dari potong­an titit yang dita­nam itu, nan­ti­nya akan tum­buh pohon titit. Pohon itu sema­kin lama akan sema­kin besar, daun­nya lebat dan ran­ting­nya pan­jang-pan­jang. Bila musim­nya tiba, di seti­ap ran­ting pohon itu akan tum­buh men­jun­tai titit-titit kecil yang sama per­sis dengan titit­ku. 

Aku mem­ba­yangk­an bah­wa dr. Yatno akan meme­tik titit-titit kecil itu saat ia tidak sem­pat mem­be­li makan­an. Ia akan mema­sak­nya dengan kecap asam manis, lalu mela­hap­nya. 

Ayah ter­ke­jut. Imajinasiku ter­la­lu meng­e­rik­an, kata­nya. Dokter Yatno buka­nlah seo­rang kani­bal. Titit-titit kecil itu kelak akan ber­gu­na untuk­ku seba­gai titit cadang­an. Aku ter­i­ngat bah­wa bebe­ra­pa wak­tu sebe­lum­nya titit­ku memang per­nah ter­je­pit rits­le­ting cela­na dan itu mem­bu­at­ku mena­ngis kare­na takut titit­ku akan putus. Aku tidak per­lu kha­wa­tir lagi seka­rang. Itulah alas­an sebe­nar­nya meng­a­pa laki-laki harus dikhit­an. 

Penasaran, aku ber­ta­nya apa­kah ayah juga mena­nam pohon titit saat ia dikhit­an dulu. Ayah meng­ang­guk, kemu­di­an sam­bil menye­le­sa­ik­an hitu­ngan­nya, ia ber­ka­ta bah­wa semen­jak meni­kah dengan Ibu, ia sudah tiga kali ber­gan­ti titit cadang­an. 

Aku tidak sem­pat ber­ta­nya lebih lan­jut, sebab saat itu aku baru sadar bah­wa ber­da­sark­an catat­an yang Ayah tulis, uang­ku sudah lebih dari cukup untuk mem­be­li sepa­sang sepa­tu roda. 

Perbankan Gaib

Sampean tidak per­ca­ya saya bisa meng­gan­dak­an uang?” tanya Eyang Sanca, alis­nya meng­e­rut dan posi­si duduk­nya maju ke arah­ku.

Nggak per­ca­ya. Mana mung­kin uang bisa digan­dak­an? Apa Eyang pikir saya ini orang kam­pung yang bisa dibo­do­hi? Saya ini orang kota, ber­pen­di­dik­an!” jawab­ku sam­bil menah­an tawa.

Eyang Sanca mena­rik napas dalam, lalu meng­u­rut-urut jeng­got­nya. “Pernah ke bank, kan?”

Pernah dong!” jawab­ku.

Sampean jangan kaget kalau saya bilang, bank itu sama seper­ti saya, sama-sama dukun peng­gan­da uang!”

Aku ber­de­ham, seper­ti­nya aku mulai paham jal­an piki­ran­nya, tapi aku ingin meng­u­ji­nya sedi­kit. “Maksud Eyang?”

Kalau sam­pe­an per­gi ke bank, masu­kin uang di tabung­an, depo­si­to, atau inves­ta­si lain­nya, uang sam­pe­an ber­tam­bah banyak, kan?” ujar­nya sam­bil meli­pat tangan di dep­an dada.

Iya, saya tau itu.”

Nah, apa beda­nya? Uang sam­pe­an sama-sama jadi ber­li­pat gan­da tan­pa sam­pe­an harus ker­ja dan cuma tidur-tidur­an di rumah. Berarti, kon­sep meng­gan­dak­an uang itu buk­an sesu­a­tu yang ndak masuk akal. Iya toh?”

Kutatap raut muka­nya. Aku tak bisa mere­mehk­an dukun ini, ter­nya­ta ia pin­tar ber­ke­lit juga.

Kalau Eyang sama saja dengan bank, lalu buat apa saya per­gi ke Eyang? Lebih enak ke bank, bia­ya admi­nis­tra­si­nya lebih ren­dah; kan­tor­nya sejuk pakai AC, nggak bau keme­ny­an seper­ti ini; petu­gas­nya juga per­em­pu­an can­tik, buk­an kakek-kakek peyot begi­ni,” ucap­ku pel­an.

Jangan kurang ajar, ya!” sua­ra­nya mening­gi. “Biar saya kasih tau kena­pa saya lebih hebat, bunga yang saya tawark­an itu lima ratus per­sen! Lebih ting­gi dari bank mana pun!”

Tawaku ham­pir mele­dak men­de­ngar pen­je­la­san­nya. Jelas-jelas dia ingin meni­pu­ku. “Omong kosong! Mana bisa bunga sebe­sar itu? Diinvestasikan untuk bis­nis apa uang saya? Saham apa?”

Investasi gaib!”

Apaan gaib?”

Ini per­bank­an gaib! Jelas beda dengan per­bank­an kon­ven­sio­nal!”

Ia meng­e­lu­ark­an sebu­ah buku dari kan­tong keme­ja batik­nya. Sebuah buku tabung­an ber­war­na hitam dengan tulis­an putih “Bank Gaib, Sanca Bank”.

Ia men­je­lask­an, “Sampean tau, kan, kalau nilai mata uang itu beda-beda? Nilai dolar Amerika lebih besar dari nilai rupi­ah, misal­nya. Sekarang biar saya kasih tau, nilai mata uang di dunia gaib itu nila­i­nya ber­a­tus-ratus kali lipat dari nilai rupi­ah!”

Mata uang gaib? Apa lagi itu?”

Sampean belum per­nah ke alam jin, kan? Pantas ndak tau. Saya bisa kasih bunga sam­pai lima ratus per­sen kare­na saya ini men­ja­lank­an usa­ha per­bank­an dan per­e­ko­no­mi­an anta­rdi­men­si, tepat­nya alam manu­sia dengan alam jin,” jelas­nya. “Ndak semua orang bisa, cuma dukun yang punya keku­at­an saja yang bisa”

Aku meng­he­la napas. Menarik juga dukun ini.

Ayam Saja Bisa Hidup

Pak Ade bingung. Pengeluaran keu­a­ngan­nya ter­a­sa tidak ter­ken­da­li. Baru saja satu ming­gu pasca-gaji­an, tapi saldo di reke­ning­nya ting­gal seu­jung kuku. Ia tidak tahu ke mana saja uang­nya ia belan­jak­an. Sebagian untuk jaj­an, seba­gi­an untuk hura-hura, seba­gi­an lagi untuk menun­jang gaya hidup, tapi tak ada alo­ka­si untuk tabung­an, apa­la­gi inves­ta­si.

Ia pun duduk di dep­an rumah­nya, mema­kai sarung dan kaos oblong, sam­bil meng­o­brol dengan anak dan istri­nya. Istrinya ber­ke­luh kesah men­de­ngar kon­di­si keu­ang­an kelu­ar­ga. Ia menya­lahk­an Pak Ade yang bela­kang­an hobi meng­o­lek­si batu akik, bahk­an mem­be­li bebe­ra­pa batu dengan har­ga fan­tas­tis hanya kare­na dibu­juk tem­an-teman­nya. Sementara itu, Pak Ade dengan san­tai menya­lahk­an istri­nya yang sering kalap belan­ja onli­ne, mem­be­li baju dan sepa­tu yang cuma sese­ka­li dipa­kai saat per­gi ke undang­an. Anak mere­ka yang masih TK tidak meng­er­ti apa-apa, tidak paham kalau sebe­nar­nya ia juga ikut disa­lahk­an kare­na sering mere­ngek min­ta dibe­lik­an main­an BoBoiBoy dan Avengers. Continue rea­ding Ayam Saja Bisa Hidup

Tamu Terakhir

18+

Organ tung­gal sudah tak ter­de­ngar sejak satu jam yang lalu dan tamu-tamu mulai surut. Ningrum menah­an diri untuk tak meng­go­sok mata­nya yang ter­a­sa per­ih, lalu meli­rik ke arah Dimas, sua­mi­nya, yang juga tam­pak tak kalah lelah. Di halam­an rumah­nya, orang-orang sudah mulai mem­be­resk­an kur­si, semen­ta­ra hidang­an rese­psi sudah ham­pir habis. Tak ada lagi yang datang dari arah ger­bang kecu­a­li angin dingin dan nya­muk-nya­muk.

Nggak akan ada tamu lagi, kan?” geru­tu Dimas.

Mungkin masih,” ucap Ningrum pel­an, seper­ti sedang ber­bi­ca­ra dengan diri­nya sen­di­ri.

Ah, kalau pun ada, paling juga besok. Sekarang kaya­nya kita bisa isti­ra­hat.”

Sepasang sua­mi istri yang baru sele­sai mak­an tam­pak lang­sung ber­pa­mit­an keti­ka menya­da­ri bah­wa kur­si-kur­si mulai diang­kat. Merekalah tamu ter­a­khir di aca­ra per­ni­kah­an itu. Ningrum meng­he­la napas sam­bil Continue rea­ding Tamu Terakhir

Jam Tua yang Menolak Waktu

Orang bilang, jam yang rusak akan tetap menun­jukk­an kebe­nar­an, mini­mal dua kali dalam seha­ri. Namun hal itu tidak ber­la­ku pada jam tua di rumah­ku. Kedua jarum­nya ber­hen­ti di ang­ka dua belas. Anehnya, seti­ap kali pukul dua belas tiba, jarum pan­jang jam itu akan mun­dur satu menit, lalu kem­ba­li lagi ke tem­pat semu­la satu menit kemu­di­an. Seolah-olah jam itu sela­lu meno­lak untuk men­ja­di benar.

Sejak diwa­risk­an oleh almar­hum kakek­ku dua tahun yang lalu, jam itu men­ja­di bang­kai yang ber­di­ri men­ju­lang di pojok kamar, meng­a­wa­si keti­ka kami tidur sam­bil mem­bu­at sem­pit ruang­an dengan badan­nya yang besar dan hitam. Istriku sering kali ter­ba­ngun pada tengah malam kare­na mera­sa akan ditim­pa oleh ben­da itu, kemu­di­an penya­kit asma­nya akan kam­buh dan aku harus meng­am­bilk­an inha­ler dari dalam laci.

Sudah lama aku ingin men­ju­al jam itu, tapi tak ada yang meng­ang­gap ben­da itu cukup ber­har­ga untuk ditu­kar dengan uang. Suatu hari, aku men­co­ba meng­u­tak-atik­nya sen­di­ri. Aku buk­an ahli repa­ra­si jam antik, tapi ber­da­sark­an infor­ma­si yang kuda­patk­an dari inter­net, aku tahu bah­wa jam itu seha­rus­nya tak bisa ber­ge­rak lagi kare­na ran­tai pem­be­rat di dalam­nya sudah tak per­nah dita­rik. Entah keku­at­an apa yang mem­bu­at­nya sela­lu ber­ge­rak seti­ap pukul dua belas. Merasa geram, kupa­ku jarum pan­jang jam itu di ang­ka dua belas, memak­sa­nya untuk men­ja­di benar.

Malamnya, keti­ka ham­pir pukul 12 tepat, kuli­hat jarum pan­jang jam itu men­co­ba mem­be­ron­tak. Ia ber­u­sa­ha mun­dur dan maju satu menit, tapi ter­tah­an oleh paku yang kupa­sang. Aku ter­ta­wa meli­hat­nya, seka­rang ia tak bisa lari lagi dari kebe­nar­an. Setelah puas “mem­ba­las den­dam” pada jam tua itu, aku pun naik ke tem­pat tidur sam­bil ber­en­ca­na mem­bu­ang ben­da rong­sok­an itu besok pagi.

Rasanya aku sudah tidur lama seka­li, tapi keti­ka ter­ba­ngun, kamar masih gelap. Istriku masih tidur dan tidak ada sinar mata­ha­ri yang mene­ro­bos tirai jen­de­la. Kuperiksa jam di pon­sel, dan beta­pa ter­ke­jut­nya aku kare­na ang­ka digi­tal itu masih menun­jukk­an pukul 00.00. Aku menung­gu dalam wak­tu yang kupi­kir sudah ham­pir lima menit, tapi jam di pon­sel tetap sama, tetap pukul nol-nol-nol-nol.

Aku ber­ge­ming di atas tem­pat tidur­ku dalam wak­tu yang sangat lama, yang tak ingin kuhi­tung sama seka­li. Istriku tak per­nah bangun; mata­ha­ri tak per­nah ter­bit. Bahkan tan­pa per­lu meme­rik­sa­nya ter­le­bih dahu­lu, aku tahu bah­wa jam tangan­ku, jam din­ding di ruang tamu, jam besar di alun-alun kota, dan semua jam di dunia ini telah ber­hen­ti ber­pu­tar. Jam tua itu tak per­nah tun­duk men­ja­di pengi­kut, ia memi­li­ki wak­tu­nya sen­di­ri.

New High Score!

Sejak kube­lik­an X-Box dan Kinect seba­gai kado ulang tahun­nya, adik­ku sema­kin hobi ber­ma­in video game. Ia melom­pat-lom­pat dan mena­ri-nari di dep­an tele­vi­si seti­ap pulang seko­lah. Kupikir ini ada­lah ide bagus. Selama ini ia sela­lu ber­ma­in game dengan duduk di dep­an kom­pu­ter atau tidur­an di atas kasur sam­bil meme­gang pon­sel. Ia jadi jarang ber­ge­rak, semen­ta­ra aku kha­wa­tir ber­at badan­nya yang sema­kin ber­tam­bah akan mem­bu­at tubuh­nya tak sehat. Dengan game jenis baru ini, seti­dak­nya per­e­dar­an darah­nya men­ja­di lebih lan­car, ia juga jadi tam­pak lebih ber­se­ma­ngat.

Kadang-kadang, aku ber­ma­in dengan­nya pada hari libur atau keti­ka aku pulang ker­ja lebih awal. Permainan yang sedang ia gan­dru­ngi ada­lah sebu­ah pla­tform game yang meng­ha­rusk­an pema­in melom­pat-lom­pat agar tokoh dalam game tidak jatuh ke dalam jurang. Permainan itu sangat adik­tif. Musiknya menye­nangk­an, sis­tem skor yang digu­nak­an juga mem­bu­at kami ber­lom­ba-lom­ba untuk meng­ung­gu­li satu sama lain. Aku pun menyu­ka­i­nya dan nya­ris keta­gih­an. Namun lama kela­ma­an aku sadar, adik­ku sudah mulai kelu­ar batas. Kadang ia ber­ma­in hing­ga larut malam, bahk­an pada pagi hari ia menyem­patk­an diri untuk ber­ma­in sebe­lum sarap­an. Aku tak bisa mem­bi­ar­kan­nya mela­kuk­an akti­vi­tas fisik yang ber­le­bih­an, sebab sejak kecil ia memi­li­ki kon­di­si jan­tung yang agak lemah.

Akhirnya, dengan ber­at hati, aku mem­bu­at per­a­tur­an. Ia hanya boleh ber­ma­in pada hari Sabtu dan Minggu, sele­bih­nya ia harus bela­jar atau mela­kuk­an akti­vi­tas lain yang tidak ter­la­lu mele­lahk­an. Aku ber­u­sa­ha tegas. Sejak orang tua kami mening­gal, aku­lah yang ber­tang­gung jawab untuk men­ja­ga­nya.

Kukira ia benar-benar menu­rut. Sejak kubu­at per­a­tur­an itu, aku memang tak per­nah lagi meli­hat ia melom­pat-lom­pat di dep­an tele­vi­si sete­lah pulang seko­lah. Namun adik­ku itu tak hanya lemah seca­ra fisik, ia juga bebal dan keka­nak-kanak­an, bahk­an kura­sa ia agak ter­be­la­kang seca­ra men­tal.

Suatu malam, aku ter­ba­ngun dari tidur­ku kare­na harus buang air kecil. Ketika hen­dak kem­ba­li ke dalam kamar, aku menya­da­ri ada caha­ya-caha­ya yang tidak bia­sa dari ruang tengah. Aku meme­rik­sa ruang­an itu dan men­da­pa­ti adik­ku sedang ber­ma­in video game diam-diam dengan lam­pu ruang­an yang dima­tik­an dan sua­ra yang dike­cilk­an. Aku mema­ra­hi­nya habis-habis­an. Kupaksa ia mema­tik­an tele­vi­si dan masuk ke dalam kamar­nya. Ia memin­ta maaf dan ber­jan­ji bah­wa ia tidak akan meng­u­la­ngi­nya lagi. Rupanya ia sangat pena­sar­an ingin meme­cahk­an high sco­re yang kuce­tak ming­gu lalu. Alasan yang keka­nak-kanak­an seka­li.

Sayangnya, sete­lah keja­di­an itu, aku masih saja tak bisa tegas. Seharusnya aku menyem­bu­nyik­an X-Box itu dan meng­un­ci­nya di dalam lema­ri. Namun aku malah mem­bi­ar­kan­nya di tem­pat semu­la, entah kare­na malas atau ter­la­lu per­ca­ya pada jan­ji adik­ku. Hingga pada sua­tu malam, aku menye­sa­li kela­la­i­an­ku itu.

Saat itu aku harus ker­ja lem­bur hing­ga pukul sebe­las malam. Aku sudah meme­sank­an makan­an untuk adik­ku lewat deli­very servi­ce dan ber­pes­an agar ia sege­ra tidur sete­lah meng­er­jak­an PR. Namun saat aku pulang tengah malam itu, aku menya­da­ri bah­wa tele­vi­si dan X-box sedang menya­la di ruang tengah. Ia meng­u­la­ngi­nya lagi. Namun kali ini adik­ku tidak sedang melom­pat-lom­pat, ia sudah ter­ka­par di atas lan­tai, tak ber­ge­rak sedi­kit pun. Jantungnya sudah tidak ber­de­tak. Aku ter­lam­bat.

Aku dirun­dung kese­dih­an sejak keja­di­an itu. Aku mera­sa gagal meng­emb­an ama­nat kedua ora­ngtu­a­ku. Selama ham­pir dua ming­gu lama­nya, aku tak bisa menon­ton tele­vi­si di ruang tengah kare­na hal itu hanya akan mem­bu­at­ku dep­re­si. Hingga pada sua­tu sore di akhir pek­an, aku memu­tusk­an untuk bang­kit dan meng­ha­da­pi kese­di­han­ku sen­di­ri. Aku tak boleh ber­la­rut-larut. Kunyalakan X-Box dan tele­vi­si, lalu kuco­ba mema­ink­an game yang dulu dima­ink­an adik­ku. Hanya dengan begi­tu­lah aku bisa pulih dan meng­i­kh­lask­an keper­gi­an­nya.

Setelah bebe­ra­pa kali ber­ma­in, aku menya­da­ri bah­wa high-sco­re yang kuce­tak seti­ap sore sela­lu saja dipe­cahk­an. Bukan oleh­ku, tapi oleh pema­in lain. Mungkinkah aku per­nah salah mema­sukk­an nama dan–karena ter­la­lu sedihnya–malah mema­sukk­an nama almar­hum adik­ku sen­di­ri?

Kemarin malam, aku ter­ba­ngun dari tidur kare­na uda­ra ter­a­sa panas dan aku mera­sa haus. Waktu itu kira-kira pukul sete­ngah satu dini hari. Aku meng­am­bil minum di dapur dan ber­ni­at untuk kem­ba­li ke kamar. Namun saat melin­ta­si ruang tengah, aku meli­hat caha­ya-caha­ya ber­ki­lat­an samar. Kulangkahkan kaki­ku ke arah ruang­an itu. Pikirku, mung­kin sebe­lum tidur aku lupa mema­tik­an tele­vi­si, Namun keti­ka lang­kah­ku sema­kin dekat, aku bisa men­de­ngar sua­ra musik yang sangat fami­li­ar di teli­nga­ku.

Aku meng­in­tip dari balik din­ding. Lututku lemas, seku­jur tubuh­ku merin­ding. Di sana, di dep­an tele­vi­si dan X-Box, aku dapat meli­hat sia­pa yang sela­ma ini sela­lu meme­cahk­an skor­ku. Adikku sen­di­ri. Adikku yang sudah mening­gal melom­pat-lom­pat di tengah ruang­an yang gelap. Cahaya war­na-war­ni dari layar tele­vi­si menyi­na­ri wajah­nya yang pucat, mata­nya yang putih men­de­lik, dan bibir­nya yang hitam tan­pa eksp­re­si. Setiap kali ia men­da­rat, lalu melom­pat lagi, aku dapat men­de­ngar sua­ra gesek­an samar dari kain kaf­an yang masih mem­bung­kus tubuh­nya. Entah bera­pa kali ia melom­pat, aku tak meng­hi­tung­nya, sebab aku jatuh pings­an keti­ka sua­ra dari game ber­te­ri­ak nya­ring, “New high sco­re!”

 


Foto oleh: Morgan
Lisensi: Attribution 2.0 Generic

Kehidupan Setelah Mimpi

Ketika sese­o­rang mati di dalam mim­pi­mu, ke mana­kah ia akan per­gi? Apakah ia akan per­gi ke kehi­dup­an selan­jut­nya, atau­kah ia akan hilang meng­u­ap ber­sa­ma ingat­an dan kesa­da­ra­nmu? Pertanyaan konyol itu tak per­nah ter­lin­tas dalam benak­ku, kecu­a­li seti­ap kali aku pulang ke kota ini dan mene­muk­an Nurul Romayani sedang duduk di halam­an rumah­nya, ter­ka­dang sam­bil mela­mun, ter­ka­dang sam­bil menyi­sir ram­but­nya yang hitam pan­jang.

Nurul Romayani ada­lah seo­rang gadis dari tem­pat yang sangat jauh. Sejak datang ke sini, ia per­nah diba­wa ke rumah sakit jiwa mes­ki kemu­di­an mela­rik­an diri. Setelah ber­ka­li-kali men­co­ba Continue rea­ding Kehidupan Setelah Mimpi

Lompatan Si Komang

Dua belas tahun yang lalu, ayah­ku per­nah mening­gal. Aku masih ingat, per­is­ti­wa itu ter­ja­di satu hari sebe­lum ulang tahun­ku yang ke sepu­luh. Biasanya ba’da Maghrib ayah­ku pulang dengan tubuh ber­cu­cur­an keri­ngat (ia senga­ja ber­jal­an kaki dari kan­tor demi meng­he­mat ong­kos), lalu ia akan memi­num sege­las besar air putih di ruang mak­an dan meng­a­jak ibu­ku meng­o­brol. Namun malam itu ia pulang dalam kea­da­an yang ber­be­da. Tubuhnya memang penuh keri­ngat, tapi tangan kanan­nya tidak meme­gang gelas. Ia malah meme­ga­ngi dada kiri­nya yang kem­bang kem­pis, semen­ta­ra napas­nya ter­e­ngah-engah, lalu ia jatuh dari kur­si dengan sua­ra ber­de­bam yang keras.

Continue rea­ding Lompatan Si Komang

Lemari Pemakan Rambut

 

Widya tidak paham kena­pa lema­ri tua itu sela­lu memak­an ram­but­nya. Setiap kali ia duduk ber­san­dar di pin­tu lema­ri, satu atau dua helai ram­but­nya sela­lu ter­je­pit dan putus. Pagi tadi, lema­ri itu kem­ba­li memak­an ram­but­nya seba­gai sarap­an. Saat itu Widya sedang ber­so­lek sam­bil duduk mem­be­la­ka­ngi lema­ri, dan keti­ka ia bang­kit ber­di­ri, ia men­je­rit kesa­kit­an kare­na kepa­la­nya ter­a­sa dita­rik dengan kuat. Ia meno­leh. Dua helai ram­but hitam pan­jang­nya men­jun­tai di sela pin­tu lema­ri. Continue rea­ding Lemari Pemakan Rambut

Lelaki yang Menunggu Bayi

By: Jorge GobbiCC BY 2.0

Menara lis­trik di tepi jal­an ter­li­hat seper­ti sepa­sang tan­duk iblis yang sedang memin­tal benang. Telunjukku geli­sah meng­e­tuk-nge­tuk setir mobil, semen­ta­ra kaki­ku pegal meng­in­jak kopling untuk meng­ha­da­pi kema­cet­an tan­pa ujung. Ketika aku ber­ha­sil mele­wa­ti sum­ber kema­cet­an itu, aku meli­hat sebu­ah truk ter­gu­ling di ping­gir jal­an. Di bagi­an bela­kang truk itu ter­da­pat lukis­an per­em­pu­an bahe­nol dengan huruf-huruf yang ditu­lis meng­gu­nak­an cat merah: DEMI ISTRI RELA MATI.

Instingku menyim­pulk­an semua itu seba­gai per­tan­da. Apakah sesu­a­tu yang buruk ter­ja­di pada istri­ku? Di dalam kota, mobil­ku kem­ba­li ter­hen­ti oleh lam­pu lalu-lin­tas yang mena­tap merah dan ang­ka digi­tal yang ber­hi­tung mun­dur, seo­lah bila ang­ka itu habis maka ben­ca­na besar akan ter­ja­di.

Ini ada­lah per­ta­ma kali­nya istri­ku mela­hirk­an dan aku datang ter­lam­bat. Aku tak menyang­ka ia akan mela­hirk­an sece­pat ini. Terakhir kali kami ber­te­mu tak ada tan­da-tan­da yang meya­kink­an. Tetangganya, Pak Jamal dan Bu Jamal, mem­ba­wa istri­ku ke bid­an keti­ka men­de­ngar ia men­je­rit-jerit sen­di­ri­an di dalam kamar. Namun bid­an meno­lak­nya, ia menya­rank­an agar istri­ku diba­wa ke rumah sakit kare­na tak dapat mela­hirk­an seca­ra nor­mal. Pak Jamal mene­le­pon­ku keti­ka aku masih mela­kuk­an mee­ting di luar kota. Dengan sua­ra yang ter­ba­ta-bata kare­na kebi­ngung­an, ia memin­ta­ku agar sege­ra datang.

Continue rea­ding Lelaki yang Menunggu Bayi