Buku Mealova, Gratis!

Alkisah, pada sua­tu hari saya dia­jak oleh Tante Catz Link Tristan untuk ber­par­ti­si­pa­si di pro­yek kum­pul­an cer­pen­nya. Kali ini pro­yek­nya memi­li­ki tema yang unik, yai­tu masak­an dan cin­ta. Oleh kare­na itu­lah kum­pul­an cer­pen ter­se­but dibe­ri judul “Mealova” yang meru­pak­an ben­tuk peng­ga­bung­an dari kedua tema ter­se­but (tidak ada hubu­ngan­nya dengan novel/film ber­ju­dul mirip yang dulu per­nah popu­ler).

Awalnya saya agak ragu dengan tawar­an ter­se­but. Sebab, meli­hat kom­po­si­si penu­lis-penu­lis lain yang tam­pak­nya kom­pe­ten menu­lis cer­pen roman­tis, saya mung­kin akan kesu­lit­an meng­im­ba­ngi. Insting roman­sa saya mung­kin sudah ter­lan­jur dike­ruk habis sema­sa rema­ja. Namun saya pikir, bukan­kah ini tan­tang­an yang bagus? Sepertinya saya memang butuh vari­a­si dalam menu­lis.

Ketika menye­tu­jui tawar­an ini, Tante Catz memin­ta agar saya juga mema­sukk­an ciri khas tulis­an sen­di­ri ke dalam pro­yek ini, lalu mema­du­kan­nya dengan tema yang diten­tuk­an. Sebuah ide pun mun­cul dengan sangat cepat dan–mungkin–sudah bisa dite­bak. Mencoba mema­duk­an tema masak­an + per­cin­ta­an + sup­ra­na­tu­ral, saya akhir­nya mem­bu­at cer­pen ber­ju­dul … Nasi Kuning Sesaji.

Cerita ini memang masih ber­hu­bung­an dengan hal-hal mis­tis yang “kehan­tu-han­tu­an”, teta­pi ini buk­an ceri­ta ber­ge­nre horor. Meski pada akhir­nya tetap men­da­pat kri­tik bah­wa tema per­cin­ta­an­nya kurang menon­jol, tapi saya mera­sa senang menu­lis ceri­ta ini, apa­la­gi men­da­pat kesem­pat­an satu buku dengan tem­an-tem­an penu­lis yang sangat antu­si­as meng­er­jak­an pro­yek ini (Catz Link Tristan, Glenn Alexei, Eva Sri Rahayu, Lily Zhang, Liz Lavender, Try Novianti, Alfian N. Budiarto, Renee Keefe, Raziel Raddian).

Buku kum­pul­an cer­pen ini sudah diter­bitk­an oleh Grasindo pada tang­gal 10 November lalu dan bisa dite­muk­an di toko-toko buku.

Nah, pada kesem­pat­an ini saya ingin mem­ba­gik­an 2 buah buku Mealova gra­tis kepa­da kaw­an-kaw­an yang ber­un­tung.


Caranya:
1. Kamu harus punya akun Twitter
2. Tulislah twit sing­kat yang men­ce­ri­tak­an penga­lam­an paling manis/romantis kamu yang ber­hu­bung­an dengan masak­an. Saya yakin kamu lebih mam­pu diban­dingk­an saya.
3. Mention twit­ter saya @rivaimuhamad dan ser­tak­an hashtag #mea­lo­va­gra­tis
4. Waktunya ada­lah sejak pengu­mum­an ini dibu­at hing­ga tang­gal 23 November pukul 12.00 siang.
5. Dua orang yang ber­un­tung dengan twit paling mena­rik akan men­da­patk­an buku Mealova gra­tis! Pemenang diu­mumk­an pada tang­gal 24 November
6. Keputusan juri tidak dapat digang­gu-gugat.

Tanggung Jawab Slender Man

Slender man

Dua orang gadis ber­u­mur 12 tahun meng­a­jak seo­rang teman­nya untuk meng­i­nap di rumah mere­ka. Keesokan hari­nya mere­ka ber­ma­in petak umpet di sebu­ah hut­an, dan di hut­an itu­lah mere­ka meme­ga­ngi dan menu­suk teman­nya seba­nyak sem­bil­an belas kali di bagi­an bad­an, lengan, dan kaki. Ini buk­an den­dam atau per­am­pok­an, ini ada­lah sebu­ah per­sem­bah­an untuk Slender Man yang men­da­ta­ngi mim­pi salah satu dari mere­ka. Dengan penuh luka, sang korb­an ber­ha­sil kelu­ar dari hut­an dan dite­muk­an oleh seo­rang pese­pe­da yang kebe­tul­an melin­tas. Untunglah ia sela­mat. Tusukan-tusuk­an itu mele­set bebe­ra­pa mili­me­ter dari bagi­an vital.

Paragraf di atas buka­nlah sebu­ah fan­fi­ction Slender Man dari situs Continue rea­ding Tanggung Jawab Slender Man

Maujud: Mimpi Buruk Paket Komplit

Saya tidak per­nah mem­be­li buku kum­pul­an cer­pen indie dan mera­sa ber­de­bar-debar saat mem­bu­ka bung­kus­nya, kecu­a­li saat mem­be­li Maujud. “Betapa eks­klu­sif!” pikir saya keti­ka mem­bu­ka kemas­an ber­war­na hitam yang ter­e­kat rapi dengan tulis­an putih “Adit Bujbunen Al Buse, Palung Mimpi Buruk Maujud, Sebuah Antologi” di bagi­an depan­nya, ser­ta silu­et sosok mon­ster di bagi­an bela­kang­nya.

Keterpukauan saya sema­kin memun­cak dan nya­ris men­ca­pai kli­maks keti­ka di dalam kemas­an itu saya mene­muk­an empat buah objek. Jika ini ada­lah mim­pi buruk, ini pas­ti mim­pi buruk yang megah. Continue rea­ding Maujud: Mimpi Buruk Paket Komplit

Horor yang Menghukum dan Mengendalikan

By: Raíssa RuschelCC BY 2.0

Seorang tem­an per­nah ber­ka­ta bah­wa bagi­nya dalam ceri­ta horor sela­lu ada tokoh yang dihu­kum kare­na ber­bu­at salah. Ia mung­kin buk­an fans horor, tapi pen­da­pat­nya men­cer­mink­an pes­an yang ditang­kap keba­nyak­an orang dari ceri­ta horor: seko­lom­pok turis yang nekat masuk ke hut­an ter­la­rang akhir­nya kesu­rup­an, anak muda yang tidak pedu­li dengan tra­di­si lelu­hur dihan­tui sua­ra gamel­an, lela­ki pemer­ko­sa dike­jar-kejar han­tu kor­ban­nya. Inti ceri­ta horor bisa dise­der­ha­nak­an dalam rumus “tokoh A mela­kuk­an kesa­lah­an X sehing­ga menang­gung aki­bat mena­kutk­an ber­u­pa Y”.

Benarkah ceri­ta horor ada­lah alat yang digu­nak­an untuk meng­hu­ku­mi dan meng­ha­ki­mi karak­ter yang (menu­rut penu­lis­nya) telah mela­kuk­an kesa­lah­an? Continue rea­ding Horor yang Menghukum dan Mengendalikan

Mencoba Menerjemahkan: On the River

Setiap mem­ba­ca novel-novel ter­je­mah­an, saya sering mera­sa kesu­lit­an hing­ga harus men­ca­ri tulis­an dalam baha­sa asli­nya (mak­sud­nya: baha­sa Inggris) ter­le­bih dahu­lu. Meski mem­ba­ca buku ter­je­mah­an (apa­la­gi yang diter­je­mahk­an dengan buruk) ada­lah hal yang menye­balk­an, tapi saya sadar bah­wa mener­je­mahk­an tulis­an buka­nlah hal yang mudah. Beberapa kali saya men­co­ba­nya, dan bia­sa­nya gagal.

Siang tadi, dari sebu­ah grup lite­ra­tur horor, seca­ra tidak senga­ja saya mene­muk­an sebu­ah cer­pen yang luma­y­an mena­rik. Cerpen itu ber­ju­dul “On the River” oleh Guy de Maupassant (1850–1893). Iseng-iseng, saya men­co­ba mener­je­mahk­an cer­pen ter­se­but. Awalnya tidak ter­la­lu sulit. Namun mema­su­ki per­te­ngah­an ceri­ta, ter­je­mah­an saya sema­kin ambu­ra­dul. Selain kare­na ter­je­bak dengan pener­je­mah­an kata per kata, penye­bab keka­ca­u­an lain ada­lah gaya baha­sa cer­pen yang agak tidak bia­sa. Ketika nara­tor ber­gan­ti per­an men­ja­di si pen­da­yung, kali­mat-kali­mat­nya men­ja­di penuh dengan tan­da koma dan ter­pu­tus-putus. Mungkin penu­lis­nya senga­ja mela­kuk­an itu, mung­kin juga tidak. Yang jelas, keti­ka saya men­co­ba mener­je­mah­kan­nya dalam baha­sa Indonesia, tulis­an ini men­ja­di buruk. Apalagi keti­ka ter­nya­ta di tengah-tengah cer­pen ada sebu­ah pui­si yang sulit saya paha­mi. Lengkaplah usa­ha saya memo­rak-poran­dak­an kar­ya orang ini. Lain kali saya akan men­ca­ri tulis­an yang lebih mudah.

Update: Sepertinya cer­pen yang saya ter­je­mahk­an dari baha­sa Inggris ini asal­nya ditu­lis dalam baha­sa Prancis.

Cerpen sum­ber­nya bisa diba­ca di sini. Cerpen yang sudah saya ter­je­mahk­an (dan harus saya katak­an, tidak ter­la­lu ber­ha­sil) bisa diba­ca di bawah ini. Silakan bila ada yang ingin meng­o­rek­si atau mem­per­ba­i­ki.

—————————————————————————————————–

Di Atas Sungai

Musim panas lalu aku menye­wa sebu­ah rumah kecil di tepi sungai Seine, bebe­ra­pa lea­gu­es1 dari Paris, dan tidur di sana seti­ap malam. Setelah bebe­ra­pa hari, aku ber­ke­nal­an dengan salah seo­rang tetang­ga­ku, laki-laki ber­u­mur anta­ra tiga puluh dan empat puluh tahun, con­toh orang paling meng­he­rank­an yang per­nah kute­mui. Ia telah lama ber­pe­ra­hu dan ter­gi­la-gila dengan kegi­at­an ber­pe­ra­hu. Ia sela­lu ber­a­da di tepi sungai, di atas sungai, atau di dalam sungai. Ia pas­ti dila­hirk­an di atas per­a­hu, dan pada akhir­nya juga akan mening­gal di atas per­a­hu.

Suatu malam keti­ka kami ber­jal­an di sepan­jang tepi sungai Seine, kumin­ta ia men­ce­ri­tak­an kehi­du­pan­nya di sungai. Lelaki yang baik itu lang­sung ter­ta­rik, bica­ra­nya men­ja­di fasih, bahk­an pui­tis. Ada gai­rah di dalam hati­nya, sebu­ah gai­rah yang meng­i­sap-isap dan tak tertahankan—sungai itu. Continue rea­ding Mencoba Menerjemahkan: On the River

#5BukuDalamHidupku | Bag of Bones: Stephen King dan Tanda Kurung

Sebenarnya saya mera­sa sangat bim­bang untuk menen­tuk­an buku keem­pat ini. Ada banyak kan­di­dat, mulai dari Perang (novel Putu Wijaya yang per­nah saya baca saat SMA), Kumpulan Budak Setan (buku horor lokal favo­rit saya), hing­ga Bumi Manusia (ini pas­ti pilih­an yang sangat main­stre­am). Namun saya kem­ba­li ter­i­ngat bah­wa buku yang saya pilih harus­lah buku yang paling ber­pe­nga­ruh, buk­an yang paling bagus atau keren. Oleh kare­na itu pada akhir­nya saya memi­lih Bag of Bones, novel Stephen King per­ta­ma yang saya baca. Dengan demi­ki­an, saya ter­pak­sa melang­gar per­ka­ta­an saya kepa­da Irwan Bajang bah­wa empat buku pilih­an saya sete­lah Goosebumps buka­nlah ber­ge­nre horor. Ups!

Continue rea­ding #5BukuDalamHidupku | Bag of Bones: Stephen King dan Tanda Kurung

#5BukuDalamHidupku | Peri Sayap Kupu-Kupu, Novel Pertama

Alkisah di zam­an dahu­lu kala sebe­lum manu­sia memi­li­ki per­a­dab­an modern dan keti­ka dewa-dewi kahyang­an masih ber­ta­hta, saya per­nah menye­le­sa­ik­an sebu­ah novel. Utuh. Sampai ending. Tanpa ban­tu­an Nanowrimo atau him­pit­an dea­dli­ne. Novel legen­da­ris itu ber­ju­dul “Peri Sayap Kupu-Kupu”. Continue rea­ding #5BukuDalamHidupku | Peri Sayap Kupu-Kupu, Novel Pertama

#5BukuDalamHidupku | Doraemon: Sains Populer dan Orgasme Kosmis

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Komik buat­an Fujio F. Fujio ini sudah men­jel­ma men­ja­di ikon masa kanak-kanak bagi seba­gi­an besar orang yang hidup saat ini. Lalu meng­a­pa saya mema­sukk­an Doraeomen dalam daf­tar ini? Bukan, buk­an kare­na saya sudah keha­bis­an ide di pos­ting­an kedua ini dan ter­pak­sa mema­suk­an judul komik anak-anak yang sangat main­stre­am ini. Namun sete­lah mela­kuk­an per­e­nung­an yang cukup pan­jang, saya sam­pai pada satu kesim­pul­an bah­wa Doraemon memi­li­ki per­an pen­ting dalam rasa kei­ngin­ta­hu­an saya sepu­tar sains popu­ler. Doraemon ada­lah guru per­ta­ma yang mem­per­ke­nalk­an saya dengan fisi­ka popu­ler dan pada akhir­nya mem­bu­at saya mene­muk­an ung­kap­an konyol sema­cam “orgas­me kos­mis”.

Continue rea­ding #5BukuDalamHidupku | Doraemon: Sains Populer dan Orgasme Kosmis

#5BukuDalamHidupku Goosebumps: Misteri Anjing Hantu

Saya per­lu ber­pi­kir agak keras keti­ka memu­tusk­an meng­i­ku­ti aca­ra #5BukuDalamHidupku dari situs irwanbajang.com. Selain kare­na saya buk­an seo­rang pem­ba­ca yang rajin (butuh wak­tu lama untuk meng­ha­bisk­an satu buku), desk­ri­psi aca­ra itu juga luma­y­an ber­at: “ber­i­si 5 buku paling ber­pe­nga­ruh, 5 buku yang meng­u­bah hidup Anda!”. Rasanya hidup saya yang bia­sa-bia­sa ini belum per­nah ber­u­bah sam­pai lima kali, itu kalau per­u­bah­an yang dimak­sud ada­lah sesu­a­tu yang tran­sfor­ma­tif atau luar bia­sa. Akhirnya saya memu­tusk­an untuk meng­am­bil defi­ni­si yang per­ta­ma yai­tu “5 buku paling ber­pe­nga­ruh”, atau dalam pena­fsir­an saya, “5 buku yang paling ber­kes­an dan paling mudah saya ingat saat ini”.

Tanpa lebih lan­jut meng­o­ru­psi word count, saya akan mem­per­ke­nalk­an buku per­ta­ma saya untuk aca­ra ini. Sudah bisa dite­bak dari judul tulis­an, buku itu ada­lah Goosebumps: Misteri Anjing Hantu.

ANJING-ANJING HANTU ITU SUDAH MENUNGGUNYA SELAMA BERABAD-ABAD! Continue rea­ding #5BukuDalamHidupku Goosebumps: Misteri Anjing Hantu

Suspense dan Bom di Bawah Meja

Anggaplah ada sebu­ah bom di kolong meja di hadap­an kita. Tak ada yang ter­ja­di, lalu tiba-tiba bum! Muncul ledak­an. Penonton ter­ke­jut, tapi sebe­lum kejut­an itu, yang ter­li­hat hanya adeg­an bia­sa-bia­sa saja. Sekarang coba ban­dingk­an dengan situ­a­si sus­pen­se. Bomnya ada di bawah meja, tapi penon­ton meng­e­ta­hui itu, mung­kin kare­na mere­ka meli­hat sang pela­ku mele­tak­kan­nya di sana. Penonton tahu bah­wa bom itu akan mele­dak pada pukul satu. Terdapat sebu­ah jam di dalam ruang­an. Penonton meli­hat bah­wa jam itu menun­jukk­an pukul satu kurang lima belas menit. Dalam kon­di­si ter­se­but, penon­ton ikut ber­par­ti­si­pa­si dalam adeg­an yang dili­hat­nya. Mereka ter­go­da untuk mem­be­ri per­i­ngat­an pada tokoh-tokoh di layar, ‘Jangan meng­o­brol terus. Ada bom di bawah meja dan bom itu akan sege­ra mele­dak!’. Pada kasus per­ta­ma, kita mem­bu­at penon­ton mera­sak­an kejut­an sela­ma lima belas detik, semen­ta­ra pada kasus kedua kita mem­bu­at mere­ka mera­sak­an kete­gang­an sela­ma lima belas menit.”

Paragraf di atas ada­lah ter­je­mah­an bebas dari pen­je­las­an Alfred Hitchcock keti­ka diwa­wan­ca­rai oleh Francois Truffaut meng­e­nai per­be­da­an anta­ra sus­pen­se (tegang­an) dan surp­ri­se (kejut­an). Analogi bom ini sangat ter­ke­nal (mung­kin sam­pai ter­kes­an kli­se) sehing­ga sering dijadk­an acu­an untuk mem­bu­at adeg­an sus­pen­se dalam ceri­ta.

Dalam baha­sa Indonesia, sus­pen­se diter­je­mahk­an men­ja­di “tegang­an”. Kamus Besar Bahasa Indonesia men­de­fi­ni­sik­an tegang­an seba­gai isti­lah sas­tra yang ber­ar­ti “keti­da­kpas­ti­an yang ber­ke­lan­jut­an atau sua­sa­na yang makin men­de­bark­an yang dia­ki­batk­an oleh jalin­an alur dalam ceri­ta reka­an atau lakon” dan juga isti­lah psi­ko­lo­gi yang ber­ar­ti “kea­da­an men­ce­kam seba­gai aki­bat per­a­sa­an kha­wa­tir, ter­ham­bat, frus­tra­si, atau ter­la­lu ber­ge­lo­ra”. Namun dalam tulis­an ini saya tetap akan meng­gu­nak­an isti­lah sus­pen­se agar tidak mem­bi­ngungk­an.

Kalau meli­hat con­toh “bom di kolong meja ter­se­but”, mung­kin bisa dima­klu­mi bah­wa sus­pen­se sering kali disan­dingk­an dengan genre thri­ller (sela­in itu juga horor dan mis­te­ri), sebab genre ini memang yang paling sering meng­gu­nak­an sus­pen­se seca­ra mak­si­mal. Oleh kare­na itu, kita sering men­de­ngar isti­lah sus­pen­se thri­ller. Meski begi­tu, sus­pen­se pada dasar­nya buka­nlah sebu­ah genre, mela­ink­an tek­nik ber­ce­ri­ta yang dapat digu­nak­an dalam ber­ba­gai media, baik sas­tra, film, atau per­tun­juk­an, dan dapat digu­nak­an dalam genre apa pun, mulai dari kome­di hing­ga per­cin­ta­an dengan kadar yang ber­va­ri­a­si.

Tegangan dalam ceri­ta per­cin­ta­an misal­nya adeg­an seo­rang pemu­da yang ber­se­ling­kuh dan ham­pir ber­pa­pas­an dengan pacar­nya di tengah jal­an, atau sebu­ah lamar­an per­ni­kah­an yang nya­ris dito­lak. Dalam ceri­ta kome­di, sus­pen­se bisa ber­u­pa adeg­an tokoh yang mela­kuk­an hal bodoh yang tan­pa disa­da­ri akan mem­per­ma­luk­an diri­nya sen­di­ri. Dalam ceri­ta horor dan thri­ller, con­toh sus­pen­se sudah sangat banyak dan seper­ti­nya tak per­lu dise­butk­an lagi.

Ada sangat banyak tips mem­bu­at adeg­an sus­pen­se yang bisa kita temuk­an di inter­net. Namun hanya dengan pen­je­las­an Hitchcock di awal tulis­an, kita sudah bisa menyim­pulk­an bah­wa ciri pen­ting dari sus­pen­se ada­lah ada­nya keti­da­kpas­ti­an. Ketidakpastian ini harus dida­hu­lui dengan mem­be­ri tahu pem­ba­ca ten­tang sesu­a­tu yang “mung­kin” akan ter­ja­di. Dalam con­toh ter­se­but, keti­da­kpas­ti­an­nya ada­lah ber­u­pa bom yang mung­kin akan mele­dak (dan mung­kin juga tidak). Ketidakpastian itu­lah yang mem­bu­at pem­ba­ca mera­sak­an sus­pen­se.

Hal lain yang sangat ber­pe­nga­ruh dalam sus­pen­se ada­lah besar­nya taruh­an. Semakin besar taru­han­nya, ber­ar­ti sema­kin besar juga sus­pen­se yang ditim­bulk­an. Taruhan yang dimak­sud di sini ada­lah sua­tu per­is­ti­wa yang bisa menim­pa tokoh atau meme­nga­ru­hi jalan­nya ceri­ta. Bayangkan bila bom dalam con­toh ter­se­but digan­ti dengan bebe­ra­pa batang petas­an korek, ten­tu pembaca/penonton akan mera­sak­an inten­si­tas sus­pen­se yang ber­be­da, sebab hal yang diper­ta­ruhk­an rela­tif lebih kecil (hanya luka-luka).

Suspense juga bisa dibe­dak­an dari kejut­an dan mis­te­ri. Perbedaan anta­ra sus­pen­se dan kejut­an sudah dije­lask­an lewat ana­lo­gi bom di atas, yai­tu ada-tidak­nya keti­da­kpas­ti­an yang dian­ti­si­pa­si oleh penonton/pembaca. Hitchcock juga mem­be­dak­an anta­ra sus­pen­se dan mis­te­ri. Menurutnya, keti­ka kita mene­bak-nebak pela­ku keja­hat­an dalam ceri­ta mis­te­ri, yang menon­jol ada­lah teka-teki inte­lek­tu­al yang tidak emo­sio­nal, pada­hal emo­si ada­lah hal pen­ting dalam sus­pen­se. Meski demi­ki­an, ten­tu saja ceri­ta mis­te­ri atau detek­tif juga bisa mema­sukk­an sus­pen­se dalam plot­nya sehing­ga teka-teki inte­lek­tu­al itu ikut ter­a­sa mene­gangk­an seca­ra emo­sio­nal.

Penggunaan sus­pen­se dalam sebu­ah ceri­ta ada­lah hal yang pen­ting, sebab bisa men­ce­gah ceri­ta men­ja­di ter­la­lu datar dan mem­bo­sank­an. Bisa dibi­lang, ini ada­lah tek­nik paling muja­rab untuk “meng­un­ci” per­ha­ti­an pembaca/penonton agar tidak ber­pa­ling hing­ga ceri­ta sele­sai. Namun mene­rapk­an sus­pen­se buka­nlah hal yang mudah, sebab seper­ti tek­nik ber­ce­ri­ta lain­nya, kre­a­ti­vi­tas dan latih­an lebih dibu­tuhk­an dari­pa­da seka­dar penge­ta­hu­an teo­ri.

Referensi:
http://olympia.osd.wednet.edu/media/olympia/activities/drama_club/hitchcockinterview.pdf
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
http://www.doctorsyntax.net/2010/09/alfred-hitchcocks-bomb-suspense.html

Cerita Horor Kota

CHK

Beberapa bul­an yang lalu, saya meng­i­ku­ti sebu­ah lom­ba menu­lis cer­pen horor yang dise­leng­ga­rak­an oleh pener­bit PlotPoint. Lomba ini sebe­nar­nya ada­lah bagi­an dari rang­ka­i­an lom­ba cer­pen lain yang ber­te­ma kota. Saya sangat ter­ta­rik dengan lom­ba ini kare­na lom­ba cer­pen yang “khu­sus” meng­ang­kat genre horor bisa dibi­lang sangat jarang.

Cerpen yang saya kirimk­an meng­am­bil latar di kota Karawang, kota tem­pat saya (seti­dak­nya seca­ra res­mi, di KTP) ting­gal. Seperti yang dipi­kirk­an keba­nyak­an orang, awal­nya saya men­co­ba men­ca­ri urband legend atau kisah mis­tis yang khas dari kota ter­se­but. Saya mena­nyak­an hal ini pada sese­o­rang yang sejak kecil ting­gal di Karawang, teta­pi di luar duga­an ia menya­rank­an saya untuk tidak meng­am­bil tema ter­se­but, ala­san­nya kare­na takut menying­gung pihak-pihak ter­ten­tu. Saya agak kha­wa­tir juga men­de­ngar­nya. Bukan kare­na takut disan­tet atau sema­cam­nya, tapi kare­na mera­sa alas­an saya menu­lis ceri­ta horor buk­an untuk mela­kuk­an “demo­ni­sa­si” ter­ha­dap orang-orang yang mela­kuk­an prak­tik tra­di­si atau keper­ca­ya­an kuno. Selama ini ada kecen­de­rung­an dalam ceri­ta horor untuk memo­si­sik­an buda­ya tra­di­sio­nal dan kuno seba­gai sesu­a­tu yang menye­ramk­an bagi orang-orang modern. Akhirnya saya memu­tusk­an untuk mem­ba­lik kebi­a­sa­an ter­se­but, yai­tu dengan meng­am­bil sudut pan­dang orang pri­bu­mi yang mera­sa ter­an­cam dengan keda­tang­an hal-hal asing. Saya kira sudut pan­dang ini cocok dengan kea­da­an Karawang yang telah ber­u­bah dari lum­bung padi men­ja­di kota indus­tri dengan sega­la per­ma­sa­lah­an sosi­al­nya. Sangat pre­ten­si­us, ya?

Saya sangat ber­un­tung kare­na ter­nya­ta cer­pen saya ter­pi­lih men­ja­di salah satu cer­pen yang dibu­kuk­an. Buku ber­ju­dul “Cerita Horor Kota” itu sudah ter­bit seki­tar seming­gu yang lalu dengan cover yang [bagi saya] sangat mena­rik, begi­tu pula dengan ilus­tra­si cat air di dalam­nya. Satu-satu­nya keku­rang­an dari segi sam­pul ada­lah tangan mon­ster yang “kelu­ar” dari bela­kang buku, itu agak meng­gang­gu (wala­u­pun ter­li­hat keren saat buku masih dibung­kus plas­tik). Kualitas ker­tas dan ceta­kan­nya juga bagus, layak diko­lek­si.

Saya tidak akan mem­ba­has buku ini, kare­na saya pikir hal itu buk­an bagi­an saya. Yang jelas, saya mera­sa agak geli keti­ka mem­ban­dingk­an cer­pen yang saya buat dengan cer­pen peme­nang lain, seper­ti­nya cer­pen saya yang paling tidak nyam­bung dengan kon­sep buku ini. Entahlah, biar pem­ba­ca yang meni­lai.

Buku ini bisa dida­patk­an di toko-toko buku pada umum­nya.