Buku Mealova, Gratis!

Alkisah, pada suatu hari saya diajak oleh Tante Catz Link Tristan untuk berpartisipasi di proyek kumpulan cerpennya. Kali ini proyeknya memiliki tema yang unik, yaitu masakan dan cinta. Oleh karena itulah kumpulan cerpen tersebut diberi judul “Mealova” yang merupakan bentuk penggabungan dari kedua tema tersebut (tidak ada hubungannya dengan novel/film berjudul mirip yang dulu pernah populer).

Awalnya saya agak ragu dengan tawaran tersebut. Sebab, melihat komposisi penulis-penulis lain yang tampaknya kompeten menulis cerpen romantis, saya mungkin akan kesulitan mengimbangi. Insting romansa saya mungkin sudah terlanjur dikeruk habis semasa remaja. Namun saya pikir, bukankah ini tantangan yang bagus? Sepertinya saya memang butuh variasi dalam menulis.

Ketika menyetujui tawaran ini, Tante Catz meminta agar saya juga memasukkan ciri khas tulisan sendiri ke dalam proyek ini, lalu memadukannya dengan tema yang ditentukan. Sebuah ide pun muncul dengan sangat cepat dan–mungkin–sudah bisa ditebak. Mencoba memadukan tema masakan + percintaan + supranatural, saya akhirnya membuat cerpen berjudul … Nasi Kuning Sesaji.

Cerita ini memang masih berhubungan dengan hal-hal mistis yang “kehantu-hantuan”, tetapi ini bukan cerita bergenre horor. Meski pada akhirnya tetap mendapat kritik bahwa tema percintaannya kurang menonjol, tapi saya merasa senang menulis cerita ini, apalagi mendapat kesempatan satu buku dengan teman-teman penulis yang sangat antusias mengerjakan proyek ini (Catz Link Tristan, Glenn Alexei, Eva Sri Rahayu, Lily Zhang, Liz Lavender, Try Novianti, Alfian N. Budiarto, Renee Keefe, Raziel Raddian).

Buku kumpulan cerpen ini sudah diterbitkan oleh Grasindo pada tanggal 10 November lalu dan bisa ditemukan di toko-toko buku.

Nah, pada kesempatan ini saya ingin membagikan 2 buah buku Mealova gratis kepada kawan-kawan yang beruntung.


Caranya:
1. Kamu harus punya akun Twitter
2. Tulislah twit singkat yang menceritakan pengalaman paling manis/romantis kamu yang berhubungan dengan masakan. Saya yakin kamu lebih mampu dibandingkan saya.
3. Mention twitter saya @rivaimuhamad dan sertakan hashtag #mealovagratis
4. Waktunya adalah sejak pengumuman ini dibuat hingga tanggal 23 November pukul 12.00 siang.
5. Dua orang yang beruntung dengan twit paling menarik akan mendapatkan buku Mealova gratis! Pemenang diumumkan pada tanggal 24 November
6. Keputusan juri tidak dapat diganggu-gugat.

Tanggung Jawab Slender Man

Slender man

Dua orang gadis berumur 12 tahun mengajak seorang temannya untuk menginap di rumah mereka. Keesokan harinya mereka bermain petak umpet di sebuah hutan, dan di hutan itulah mereka memegangi dan menusuk temannya sebanyak sembilan belas kali di bagian badan, lengan, dan kaki. Ini bukan dendam atau perampokan, ini adalah sebuah persembahan untuk Slender Man yang mendatangi mimpi salah satu dari mereka. Dengan penuh luka, sang korban berhasil keluar dari hutan dan ditemukan oleh seorang pesepeda yang kebetulan melintas. Untunglah ia selamat. Tusukan-tusukan itu meleset beberapa milimeter dari bagian vital.

Paragraf di atas bukanlah sebuah fanfiction Slender Man dari situs Continue reading Tanggung Jawab Slender Man

Maujud: Mimpi Buruk Paket Komplit

Saya tidak pernah membeli buku kumpulan cerpen indie dan merasa berdebar-debar saat membuka bungkusnya, kecuali saat membeli Maujud. “Betapa eksklusif!” pikir saya ketika membuka kemasan berwarna hitam yang terekat rapi dengan tulisan putih “Adit Bujbunen Al Buse, Palung Mimpi Buruk Maujud, Sebuah Antologi” di bagian depannya, serta siluet sosok monster di bagian belakangnya.

Keterpukauan saya semakin memuncak dan nyaris mencapai klimaks ketika di dalam kemasan itu saya menemukan empat buah objek. Jika ini adalah mimpi buruk, ini pasti mimpi buruk yang megah. Continue reading Maujud: Mimpi Buruk Paket Komplit

Horor yang Menghukum dan Mengendalikan

By: Raíssa RuschelCC BY 2.0

Seorang teman pernah berkata bahwa baginya dalam cerita horor selalu ada tokoh yang dihukum karena berbuat salah. Ia mungkin bukan fans horor, tapi pendapatnya mencerminkan pesan yang ditangkap kebanyakan orang dari cerita horor: sekolompok turis yang nekat masuk ke hutan terlarang akhirnya kesurupan, anak muda yang tidak peduli dengan tradisi leluhur dihantui suara gamelan, lelaki pemerkosa dikejar-kejar hantu korbannya. Inti cerita horor bisa disederhanakan dalam rumus “tokoh A melakukan kesalahan X sehingga menanggung akibat menakutkan berupa Y”.

Benarkah cerita horor adalah alat yang digunakan untuk menghukumi dan menghakimi karakter yang (menurut penulisnya) telah melakukan kesalahan? Continue reading Horor yang Menghukum dan Mengendalikan

Mencoba Menerjemahkan: On the River

Setiap membaca novel-novel terjemahan, saya sering merasa kesulitan hingga harus mencari tulisan dalam bahasa aslinya (maksudnya: bahasa Inggris) terlebih dahulu. Meski membaca buku terjemahan (apalagi yang diterjemahkan dengan buruk) adalah hal yang menyebalkan, tapi saya sadar bahwa menerjemahkan tulisan bukanlah hal yang mudah. Beberapa kali saya mencobanya, dan biasanya gagal.

Siang tadi, dari sebuah grup literatur horor, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah cerpen yang lumayan menarik. Cerpen itu berjudul “On the River” oleh Guy de Maupassant (1850–1893). Iseng-iseng, saya mencoba menerjemahkan cerpen tersebut. Awalnya tidak terlalu sulit. Namun memasuki pertengahan cerita, terjemahan saya semakin amburadul. Selain karena terjebak dengan penerjemahan kata per kata, penyebab kekacauan lain adalah gaya bahasa cerpen yang agak tidak biasa. Ketika narator berganti peran menjadi si pendayung, kalimat-kalimatnya menjadi penuh dengan tanda koma dan terputus-putus. Mungkin penulisnya sengaja melakukan itu, mungkin juga tidak. Yang jelas, ketika saya mencoba menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, tulisan ini menjadi buruk. Apalagi ketika ternyata di tengah-tengah cerpen ada sebuah puisi yang sulit saya pahami. Lengkaplah usaha saya memorak-porandakan karya orang ini. Lain kali saya akan mencari tulisan yang lebih mudah.

Update: Sepertinya cerpen yang saya terjemahkan dari bahasa Inggris ini asalnya ditulis dalam bahasa Prancis.

Cerpen sumbernya bisa dibaca di sini. Cerpen yang sudah saya terjemahkan (dan harus saya katakan, tidak terlalu berhasil) bisa dibaca di bawah ini. Silakan bila ada yang ingin mengoreksi atau memperbaiki.

—————————————————————————————————–

Di Atas Sungai

Musim panas lalu aku menyewa sebuah rumah kecil di tepi sungai Seine, beberapa leagues1 dari Paris, dan tidur di sana setiap malam. Setelah beberapa hari, aku berkenalan dengan salah seorang tetanggaku, laki-laki berumur antara tiga puluh dan empat puluh tahun, contoh orang paling mengherankan yang pernah kutemui. Ia telah lama berperahu dan tergila-gila dengan kegiatan berperahu. Ia selalu berada di tepi sungai, di atas sungai, atau di dalam sungai. Ia pasti dilahirkan di atas perahu, dan pada akhirnya juga akan meninggal di atas perahu.

Suatu malam ketika kami berjalan di sepanjang tepi sungai Seine, kuminta ia menceritakan kehidupannya di sungai. Lelaki yang baik itu langsung tertarik, bicaranya menjadi fasih, bahkan puitis. Ada gairah di dalam hatinya, sebuah gairah yang mengisap-isap dan tak tertahankan—sungai itu. Continue reading Mencoba Menerjemahkan: On the River

#5BukuDalamHidupku | Bag of Bones: Stephen King dan Tanda Kurung

Sebenarnya saya merasa sangat bimbang untuk menentukan buku keempat ini. Ada banyak kandidat, mulai dari Perang (novel Putu Wijaya yang pernah saya baca saat SMA), Kumpulan Budak Setan (buku horor lokal favorit saya), hingga Bumi Manusia (ini pasti pilihan yang sangat mainstream). Namun saya kembali teringat bahwa buku yang saya pilih haruslah buku yang paling berpengaruh, bukan yang paling bagus atau keren. Oleh karena itu pada akhirnya saya memilih Bag of Bones, novel Stephen King pertama yang saya baca. Dengan demikian, saya terpaksa melanggar perkataan saya kepada Irwan Bajang bahwa empat buku pilihan saya setelah Goosebumps bukanlah bergenre horor. Ups!

Continue reading #5BukuDalamHidupku | Bag of Bones: Stephen King dan Tanda Kurung

#5BukuDalamHidupku | Peri Sayap Kupu-Kupu, Novel Pertama

Alkisah di zaman dahulu kala sebelum manusia memiliki peradaban modern dan ketika dewa-dewi kahyangan masih bertahta, saya pernah menyelesaikan sebuah novel. Utuh. Sampai ending. Tanpa bantuan Nanowrimo atau himpitan deadline. Novel legendaris itu berjudul “Peri Sayap Kupu-Kupu”. Continue reading #5BukuDalamHidupku | Peri Sayap Kupu-Kupu, Novel Pertama

#5BukuDalamHidupku | Doraemon: Sains Populer dan Orgasme Kosmis

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Komik buatan Fujio F. Fujio ini sudah menjelma menjadi ikon masa kanak-kanak bagi sebagian besar orang yang hidup saat ini. Lalu mengapa saya memasukkan Doraeomen dalam daftar ini? Bukan, bukan karena saya sudah kehabisan ide di postingan kedua ini dan terpaksa memasukan judul komik anak-anak yang sangat mainstream ini. Namun setelah melakukan perenungan yang cukup panjang, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Doraemon memiliki peran penting dalam rasa keingintahuan saya seputar sains populer. Doraemon adalah guru pertama yang memperkenalkan saya dengan fisika populer dan pada akhirnya membuat saya menemukan ungkapan konyol semacam “orgasme kosmis”.

Continue reading #5BukuDalamHidupku | Doraemon: Sains Populer dan Orgasme Kosmis

#5BukuDalamHidupku Goosebumps: Misteri Anjing Hantu

Saya perlu berpikir agak keras ketika memutuskan mengikuti acara #5BukuDalamHidupku dari situs irwanbajang.com. Selain karena saya bukan seorang pembaca yang rajin (butuh waktu lama untuk menghabiskan satu buku), deskripsi acara itu juga lumayan berat: “berisi 5 buku paling berpengaruh, 5 buku yang mengubah hidup Anda!”. Rasanya hidup saya yang biasa-biasa ini belum pernah berubah sampai lima kali, itu kalau perubahan yang dimaksud adalah sesuatu yang transformatif atau luar biasa. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil definisi yang pertama yaitu “5 buku paling berpengaruh”, atau dalam penafsiran saya, “5 buku yang paling berkesan dan paling mudah saya ingat saat ini”.

Tanpa lebih lanjut mengorupsi word count, saya akan memperkenalkan buku pertama saya untuk acara ini. Sudah bisa ditebak dari judul tulisan, buku itu adalah Goosebumps: Misteri Anjing Hantu.

ANJING-ANJING HANTU ITU SUDAH MENUNGGUNYA SELAMA BERABAD-ABAD! Continue reading #5BukuDalamHidupku Goosebumps: Misteri Anjing Hantu

Suspense dan Bom di Bawah Meja

Anggaplah ada sebuah bom di kolong meja di hadapan kita. Tak ada yang terjadi, lalu tiba-tiba bum! Muncul ledakan. Penonton terkejut, tapi sebelum kejutan itu, yang terlihat hanya adegan biasa-biasa saja. Sekarang coba bandingkan dengan situasi suspense. Bomnya ada di bawah meja, tapi penonton mengetahui itu, mungkin karena mereka melihat sang pelaku meletakkannya di sana. Penonton tahu bahwa bom itu akan meledak pada pukul satu. Terdapat sebuah jam di dalam ruangan. Penonton melihat bahwa jam itu menunjukkan pukul satu kurang lima belas menit. Dalam kondisi tersebut, penonton ikut berpartisipasi dalam adegan yang dilihatnya. Mereka tergoda untuk memberi peringatan pada tokoh-tokoh di layar, ‘Jangan mengobrol terus. Ada bom di bawah meja dan bom itu akan segera meledak!’. Pada kasus pertama, kita membuat penonton merasakan kejutan selama lima belas detik, sementara pada kasus kedua kita membuat mereka merasakan ketegangan selama lima belas menit.”

Paragraf di atas adalah terjemahan bebas dari penjelasan Alfred Hitchcock ketika diwawancarai oleh Francois Truffaut mengenai perbedaan antara suspense (tegangan) dan surprise (kejutan). Analogi bom ini sangat terkenal (mungkin sampai terkesan klise) sehingga sering dijadkan acuan untuk membuat adegan suspense dalam cerita.

Dalam bahasa Indonesia, suspense diterjemahkan menjadi “tegangan”. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan tegangan sebagai istilah sastra yang berarti “ketidakpastian yang berkelanjutan atau suasana yang makin mendebarkan yang diakibatkan oleh jalinan alur dalam cerita rekaan atau lakon” dan juga istilah psikologi yang berarti “keadaan mencekam sebagai akibat perasaan khawatir, terhambat, frustrasi, atau terlalu bergelora”. Namun dalam tulisan ini saya tetap akan menggunakan istilah suspense agar tidak membingungkan.

Kalau melihat contoh “bom di kolong meja tersebut”, mungkin bisa dimaklumi bahwa suspense sering kali disandingkan dengan genre thriller (selain itu juga horor dan misteri), sebab genre ini memang yang paling sering menggunakan suspense secara maksimal. Oleh karena itu, kita sering mendengar istilah suspense thriller. Meski begitu, suspense pada dasarnya bukanlah sebuah genre, melainkan teknik bercerita yang dapat digunakan dalam berbagai media, baik sastra, film, atau pertunjukan, dan dapat digunakan dalam genre apa pun, mulai dari komedi hingga percintaan dengan kadar yang bervariasi.

Tegangan dalam cerita percintaan misalnya adegan seorang pemuda yang berselingkuh dan hampir berpapasan dengan pacarnya di tengah jalan, atau sebuah lamaran pernikahan yang nyaris ditolak. Dalam cerita komedi, suspense bisa berupa adegan tokoh yang melakukan hal bodoh yang tanpa disadari akan mempermalukan dirinya sendiri. Dalam cerita horor dan thriller, contoh suspense sudah sangat banyak dan sepertinya tak perlu disebutkan lagi.

Ada sangat banyak tips membuat adegan suspense yang bisa kita temukan di internet. Namun hanya dengan penjelasan Hitchcock di awal tulisan, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa ciri penting dari suspense adalah adanya ketidakpastian. Ketidakpastian ini harus didahului dengan memberi tahu pembaca tentang sesuatu yang “mungkin” akan terjadi. Dalam contoh tersebut, ketidakpastiannya adalah berupa bom yang mungkin akan meledak (dan mungkin juga tidak). Ketidakpastian itulah yang membuat pembaca merasakan suspense.

Hal lain yang sangat berpengaruh dalam suspense adalah besarnya taruhan. Semakin besar taruhannya, berarti semakin besar juga suspense yang ditimbulkan. Taruhan yang dimaksud di sini adalah suatu peristiwa yang bisa menimpa tokoh atau memengaruhi jalannya cerita. Bayangkan bila bom dalam contoh tersebut diganti dengan beberapa batang petasan korek, tentu pembaca/penonton akan merasakan intensitas suspense yang berbeda, sebab hal yang dipertaruhkan relatif lebih kecil (hanya luka-luka).

Suspense juga bisa dibedakan dari kejutan dan misteri. Perbedaan antara suspense dan kejutan sudah dijelaskan lewat analogi bom di atas, yaitu ada-tidaknya ketidakpastian yang diantisipasi oleh penonton/pembaca. Hitchcock juga membedakan antara suspense dan misteri. Menurutnya, ketika kita menebak-nebak pelaku kejahatan dalam cerita misteri, yang menonjol adalah teka-teki intelektual yang tidak emosional, padahal emosi adalah hal penting dalam suspense. Meski demikian, tentu saja cerita misteri atau detektif juga bisa memasukkan suspense dalam plotnya sehingga teka-teki intelektual itu ikut terasa menegangkan secara emosional.

Penggunaan suspense dalam sebuah cerita adalah hal yang penting, sebab bisa mencegah cerita menjadi terlalu datar dan membosankan. Bisa dibilang, ini adalah teknik paling mujarab untuk “mengunci” perhatian pembaca/penonton agar tidak berpaling hingga cerita selesai. Namun menerapkan suspense bukanlah hal yang mudah, sebab seperti teknik bercerita lainnya, kreativitas dan latihan lebih dibutuhkan daripada sekadar pengetahuan teori.

Referensi:
http://olympia.osd.wednet.edu/media/olympia/activities/drama_club/hitchcockinterview.pdf
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
http://www.doctorsyntax.net/2010/09/alfred-hitchcocks-bomb-suspense.html

Cerita Horor Kota

CHK

Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti sebuah lomba menulis cerpen horor yang diselenggarakan oleh penerbit PlotPoint. Lomba ini sebenarnya adalah bagian dari rangkaian lomba cerpen lain yang bertema kota. Saya sangat tertarik dengan lomba ini karena lomba cerpen yang “khusus” mengangkat genre horor bisa dibilang sangat jarang.

Cerpen yang saya kirimkan mengambil latar di kota Karawang, kota tempat saya (setidaknya secara resmi, di KTP) tinggal. Seperti yang dipikirkan kebanyakan orang, awalnya saya mencoba mencari urband legend atau kisah mistis yang khas dari kota tersebut. Saya menanyakan hal ini pada seseorang yang sejak kecil tinggal di Karawang, tetapi di luar dugaan ia menyarankan saya untuk tidak mengambil tema tersebut, alasannya karena takut menyinggung pihak-pihak tertentu. Saya agak khawatir juga mendengarnya. Bukan karena takut disantet atau semacamnya, tapi karena merasa alasan saya menulis cerita horor bukan untuk melakukan “demonisasi” terhadap orang-orang yang melakukan praktik tradisi atau kepercayaan kuno. Selama ini ada kecenderungan dalam cerita horor untuk memosisikan budaya tradisional dan kuno sebagai sesuatu yang menyeramkan bagi orang-orang modern. Akhirnya saya memutuskan untuk membalik kebiasaan tersebut, yaitu dengan mengambil sudut pandang orang pribumi yang merasa terancam dengan kedatangan hal-hal asing. Saya kira sudut pandang ini cocok dengan keadaan Karawang yang telah berubah dari lumbung padi menjadi kota industri dengan segala permasalahan sosialnya. Sangat pretensius, ya?

Saya sangat beruntung karena ternyata cerpen saya terpilih menjadi salah satu cerpen yang dibukukan. Buku berjudul “Cerita Horor Kota” itu sudah terbit sekitar seminggu yang lalu dengan cover yang [bagi saya] sangat menarik, begitu pula dengan ilustrasi cat air di dalamnya. Satu-satunya kekurangan dari segi sampul adalah tangan monster yang “keluar” dari belakang buku, itu agak mengganggu (walaupun terlihat keren saat buku masih dibungkus plastik). Kualitas kertas dan cetakannya juga bagus, layak dikoleksi.

Saya tidak akan membahas buku ini, karena saya pikir hal itu bukan bagian saya. Yang jelas, saya merasa agak geli ketika membandingkan cerpen yang saya buat dengan cerpen pemenang lain, sepertinya cerpen saya yang paling tidak nyambung dengan konsep buku ini. Entahlah, biar pembaca yang menilai.

Buku ini bisa didapatkan di toko-toko buku pada umumnya.