Sebuah Film Berjudul Sin14 min read

 

Sepulang kuliah sore ini, aku berhenti di sebuah rental DVD yang tidak begitu terkenal di dekat tempat kost-ku: Dwi Mitra DVD. Aku rasa pasti adalah ide yang bagus untuk menghabiskan hari libur dengan menonton film. Walau tempat rental ini tidak terlihat besar, tapi harga sewanya sangat murah, dan tidak perlu mendaftar menjadi anggota segala. Sudah cukup sering aku menyewa film di tempat ini, dan aku menyadari kalau kebanyakan film yang disewakan di sini adalah kopi bajakan. Tidak masalah buatku.

Tok! Tok!

Aku mengetuk pintunya sambil masuk ke dalam, rupanya sedang sepi, cuma Mbak Ratna yang menjaga counter.

“Mas Egi! Selamat sore!” ucapnya sambil tersenyum melihat kedatanganku.

Mbak Ratna adalah pemilik rental Dwi Mitra. Sebenarnya Mbak Ratna menjalankan usaha ini berdua dengan Mas Anton, kakaknya. Walau aku selalu memanggilnya dengan sebutan “Mbak”, sebenarnya ia seumuran denganku, hanya saja entah kenapa aku selalu merasa kalau ia lebih tua. Sedangkan Mas Anton beberapa tahun lebih tua dariku, sepertinya sebentar lagi akan lulus kuliah. Mungkin ia sedang sibuk, makanya akhir-akhir ini jarang kelihatan.

“Mbak, ada film yang baru nggak?” tanyaku sambil melihat-lihat rak-rak DVD dan VCD.

“Ada, film horor mau?”

“Selain horor?”

“Hmm… Juz-Juz Cinta?”

“Yah, itu mah udah basi! Film Indonesia yg lain ada yang baru?”

Ia tampak memeriksa katalog yang ada di tangannya.

“Ada, beberapa. Yang ini nih, judulnya MCK.”

“MCK?” aku duduk di dekatnya sambil memperhatikan sampul film itu.

“Singkatan dari Memadu Cinta Kasih.”

“Ceritanya tentang apa ya?”

“Yah…, tentang pergaulan bebas, seks gitu Mas,” Mbak Ratna terlihat malu-malu, aku jadi geli sendiri.

“Ah, kayanya film murahan, paling cuma ikut-ikutan Afghanistan Pie gitu,” aku letakkan lagi sampul film itu, “yang lain ada nggak?”

“Ada nih, film reliji, yang buatnya ustadz. Baru diputer di bioskop kok, judulnya Sim Sala Bim. Gimana?”

“Males ah, paling kaya sinetron.”

“Kalo yang ini?  Judulnya Because of Love.”

“Judulnya aja udah norak, sok kebarat-baratan. Mendingan saya nyewa film barat aja deh sekalian,” ucapku sambil beralih ke rak-rak DVD bagian film barat.

Beberapa menit aku memilh-milih, akhirnya kuputuskan untuk menyewa lima judul film barat: dua film misteri, satu action, dan dua komedi. Segera kubawa sampul film-film itu ke Mbak Ratna di counter.

“Ini aja?” tanyanya.

“Iya, ini aja.”

Ia segera mencatat judul-judul film itu dan mengambilkan beberapa piringan dari sebuah lemari besar. Ia memasukkan piringan-piringan itu ke dalam sampul-sampul CD berwarna putih polos bertuliskan Dwi Mitra DVD, kemudian meletakkan sampul aslinya kembali ke rak yang ada tulisan Keluar.

Setelah membayar, akupun pulang ke tempat kost sambil membawa lima keping DVD yang baru kusewa. Setelah meletakkan tas, aku segera meraih telepon genggam dan menelepon teman-temanku.

“Halo? Hei, Gus. Ntar malem lo ada acara nggak? Gimana kalo ntar lo ajak anak-anak nonton DVD di kosan gue? Apa? Bukan, bukan film bokep. Oh, gitu. Jadi lo nggak bisa? Hah, kalo film bokep bisa? Sialan lo.”

“Halo? Oi, Dika, ntar malem lo ada acara nggak? Gue rencananya mau ngajakin anak-anak nonton film di kosan gue, gimana? Oh, lo udah ada janji ama cewek lo? Ya udah, nggak apa-apa. Si Agus juga nggak mau tuh. Apa? Ngajak cewek gue aja? Males ah, kalo ketahuan Ibu Kost, bisa repot nanti.”

“Halo? Ajo ya? Lagi ngapain lo? Ntar malem nonton film yo! Di kosan gue. Belom tau sih mau ngajak siapa aja, soalnya Agus sama Dika katanya nggak bisa. Kalo lo gimana? Hah? Kerjaan? Kerjaan apaan? Besok kan libur. Bisnis? Bisnis apa? Oh enggak deh. Makasih deh, kayanya gue nggak tertarik. Iya, bener. Eh sori, HP gue udah low-bat nih. Bener kok. Kalo misalnya gue berubah pikiran pasti gue hubungin. Eh, dikit lagi mati nih. Udah dulu ya.”

“….”

“Halo, Mitha. Lagi ngapain, Say? Oh, gitu. Nanti malem kamu ada acara nggak? Mmmm… bukan sih, aku juga lagi males keluar nih. Gimana kalo nonton film bareng-bareng aja? Bukan, bukan di bioskop, kan aku udah bilang kalo aku lagi males jalan. Ya di kosan aku. Haaah… kamu jangan mikir yang jelek-jelek dulu dong, film biasa kok, film action sama komedi. Suer, bukan yang aneh-aneh. Iya, aku tau ini kosan cowok. Caranya? Ya kamu kan tinggal nyamar jadi cowok,” … tuut… tuut…, “halo? Mitha?”

Dengan rasa kesal, aku langsung membanting handphone itu, ke atas kasur tentunya. Menyebalkan sekali kalau harus nonton film sendirian. Memang ini salahku juga, harusnya aku memastikan dulu apakah ada yang bisa diajak nonton atau tidak.

Kuambil kantong plastik berisi film-film yang tadi kusewa, kuperiksa satu persatu. Kira-kira yang mana yang akan kutonton lebih dulu ya? Tunggu dulu. Tiba-tiba saja perhatianku teralih pada satu keping DVD yang tampak aneh. Kuperhatikan label dan bagian bawahnya. Ini bukan salah satu DVD yang kusewa tadi. Kalau melihat dari labelnya, ini kan DVD RW yang biasa dipakai untuk merekam. Apa ini DVD bajakan yang lupa diberi label ya? Tapi di labelnya tertulis dengan spidol hitam, “Sin”. Seingatku aku tidak meminjam film yang berjudul “Sin”, pasti Mbak Ratna salah mengambil DVD. Kuperiksa judul-judul film yang lain, ternyata memang ada satu film yang kurang. Film laga berjudul “Forbidden Republic” yang tadi kupilih tidak ada! Pasti tertukar dengan film ini. Makin menyebalkan saja.

Dengan terpaksa, tiga hari libur berturut-turut itu kuhabiskan untuk menonton film di kamar, sendirian. Film-filmnya memang lumayan seru dan menghibur, tapi aku malah merasa kesepian. Teman-temanku hampir semuanya sudah punya acara masing-masing. Sedangkan Mitha, pacarku, masih ngambek gara-gara kejadian di telepon, waktu aku menyuruh dia menyamar jadi laki-laki agar bisa masuk ke kamarku.

Hari Selasa pun tiba. Pulang kuliah, aku berencana untuk mengembalikan DVD yang kusewa. Memang, dari kelima film itu masih ada satu yang belum kutonton, yaitu film salah ambil itu. Selain karena tidak ada waku, aku juga tidak tertarik untuk menontonnya. Buat apa menonton film yang tidak kuinginkan? Kalau kuberitahu Mbak Ratna, mungkin aku boleh menukarnya dengan film lain, soalnya ini kan murni kesalahan dia.

Aku tiba di depan Dwi Mitra Rental DVD. Tutup. Pintunya tertutup rapat, tak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Aneh sekali, tidak biasanya mereka tutup di hari kerja begini. Apa mungkin Mbak Ratna dan kakaknya sama-sama sedang sibuk, sehingga tidak ada yang menjaga counter? Ah, sudahlah. Karena ini bukan salahku, seharusnya aku tidak dikenakan denda. Akupun segera pulang, dan berniat untuk kesini lagi besok.

Esoknya, Dwi Mitra masih tutup. Karena khawatir dikenai denda, aku mengecek tempat itu hampir setiap hari. Sampai sudah dua minggu berlalu, tak satu hari pun mereka buka. Apa mereka sudah pindah ya? Ataukah mereka bangkrut dan tidak bisa membayar sewa bangunan? Sebenarnya aku merasa tidak enak juga, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak tahu nomor telepon salah satu dari mereka, aku juga tidak tahu bagaimana cara menghubungi mereka.

Dengan putus asa, kubiarkan saja film-film sewaan itu tergeletak di sudut kamar tanpa berusaha mengembalikannya. Bagaimanapun juga, ini bukan salahku, mereka pindah sebelum aku sempat mengembalikannya.

Beberapa minggu kemudian, saat hari libur dan cuaca di luar sana sedang hujan deras, aku tidak ada kerjaan dan hanya tidur-tiduran di kamar. Rasanya membosankan sekali, aku tidak tahu harus melakukan apa. Sambil memandangi langit-langit kamar, aku bersenandung kecil. Tiba-tiba tanpa sengaja tanganku menyenggol setumpuk DVD di samping tempat tidurku. Aku memeriksa benda-benda itu. Film-film dari Dwi Mitra yang belum aku kembalikan sampai sekarang. Kuambil salah satu keping DVD itu. Oh iya, film berjudul “Sin” ini kan belum sempat aku tonton. Walau rasanya aku tidak bergairah sama sekali untuk menontonnya, tapi aku segera bangkit dan menyalakan komputer. Daripada tidak ada kerjaan, pikirku. Siapa tahu ini DVD pribadi milik Mbak Ratna? Aku tertawa geli sambil mulai berpikir agak ngeres.

Kumasukkan DVD aneh itu, dan kubuka program Media Player di komputerku. Kutekan tombol Play di monitor dengan menggunakan mouse. Beberapa detik kemudian, sesuatu yang ada di dalam DVD itu pun mulai muncul di hadapanku.

Mataku terbelalak, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku.

Sementara jantungku serasa berhenti berdetak, kepalaku terasa pusing bukan main. Ini benar-benar tidak masuk akal!

 

***

Hujan deras mengguyur jalanan dan membasahi tubuhku. Seminggu yang lalu aku menghilangkan payungku, dan kini aku harus berlari di tengah derasnya tikaman hujan. Rambut dan pakaianku basah kuyup, sementara tanganku berusaha melindungi sebuah DVD yang kubungkus di dalam plastik. Aku berlari secepat mungkin, dengan ketakutan yang luar biasa, ke arah rental DVD Dwi Mitra. Aku harus mendapat penjelasan atas semua ini. Ini adalah hal paling menakutkan yang pernah kualami dalam hidupku.

TOK! TOK! TOK! Kuketuk pintu Dwi Mitra. Walau tempat itu terlihat tutup dan kosong, aku tak peduli, aku harus mencobanya dulu. Kuketuk lagi beberapa kali, tetap tak ada jawaban.

“Mbak Ratna! Mas Anton!” aku berteriak sekeras mungkin, siapa tahu salah satu dari mereka ada di dalam.

Tetap tak ada jawaban apapun dari dalam. Tak ada suara apapun selain suara hujan yang menghantam jalanan yang sepi.

Tubuhku terasa lemas, nafasku terengah-engah karena berlari tadi. Kuusap wajahku yang basah oleh air hujan, pelan-pelan aku terduduk di depan pintu itu. Kutatap DVD di balik kantong plastik yang kubawa. Tatapanku menjadi kosong, ada air yang menetes dari kedua mataku. Apakah itu air hujan? Ataukah air mata? Kalau itu air mata, apakah artinya aku menangis? Menangis karena apa? Karena takut? Karena malu? Karena bingung?

 

***

Sesaat setelah kutekan tombol “Play”, sesuatu yang tak pernah terbayangkan muncul di layar komputerku. Memang, seperti dugaanku, film berjudul “Sin” itu adalah sebuah film rekaman pribadi. Saat gambar pertama muncul, aku pun dapat meyakini kalau film itu diambil dengan menggunakan handycam, bahkan tanggal dan jam pengambilan gambarnya pun masih tercantum di layar. Tapi, kengerian yang sebenarnya baru muncul ketika aku menyadari siapa manusia yang menjadi objek di film itu.

Yang pertama kali kulihat di layar adalah… aku. Ya, maksudku aku benar-benar ada di layar! Aku ada di dalam film itu! Di dalam film itu aku berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, dan tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa tempat itu adalah kamar kost-ku sendiri. Bedanya, kamarku yang ada di film itu terlihat masih rapi dan agak kosong. Aku ingat! Ini adalah saat aku baru pindah ke tempat ini! Sesaat setelah orangtuaku pergi, dan aku tinggal sendirian. Kulihat apa yang aku lakukan di dalam film itu. Aku mengambil setumpuk majalah porno yang kusembunyikan di dalam kardus, dan kuletakkan di atas lemari.

Adegan berpindah, tanggal dan waktu yang tertera di layar pun ikut berubah. Kini yang aku saksikan adalah sosok aku yang sedang asik menonton film biru di depan komputer di dalam kamar, sendirian. Aku masih ingat kejadian itu, sudah agak lama juga. Film biru itu masih kusimpan sampai sekarang.

Bukan saatnya mengingat hal itu! Ini menakutkan! Seseorang merekam kegiatanku di dalam kamar! Kuamati sudut pengambilan gambar di film itu, aku tahu dari mana film ini direkam. Pasti seseorang memasang kamera tersembunyi di kamar ini! Tanpa menghentikan film, aku segera melompat ke atas kasur, memeriksa sisi atas dinding yang dihimpit oleh lemari pakaian. Kalau melihat sudut pengambilan gambar di film, aku yakin di sinilah kamera tersembunyi itu seharusnya terpasang. Kuamati tempat di sekitar dinding itu, aku tak menemukan suatu benda apapun yang mencurigakan, hanya sebuah noda hitam di dinding seperti bekas terbakar.

Aku menoleh lagi ke layar komputer, ke arah film yang masih berlanjut. Tiba-tiba saja kakiku lemas, seluruh tubuhku merinding. Ternyata ‘pengawasan’ itu bukan hanya terjadi di kamarku saja! Tampaknya seseorang mengikutiku dan merekam setiap kelakuan burukku!

Adegan yang kulihat di monitor sekarang adalah aku yang berada di teras sebuah rumah. Aku tahu, ini adalah rumah Mitha. Aku duduk di sebelah Mitha dan merangkul pundaknya. Beberapa saat kemudian terlihat adegan aku berusaha mencium bibir gadis itu. Mitha menolak. Ya, aku masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu. Waku itu aku datang ke rumah Mitha saat kedua orangtuanya sedang tidak ada di rumah, dan aku lepas kendali, mencoba memanfaatkan keadaan. Terlihat adegan saat aku berusaha merayu Mitha. Aku terduduk lemas melihat tayangan itu. Ada bagian di dalam diriku yang merasa malu menyaksikannya.

Beberapa detik kemudian, adegan berpindah lagi. Kali ini di sebuah tempat parkir yang sepi, hanya ada aku di antara barisan sepeda motor. Terlihat aku berjongkok di samping sebuah sepeda motor berwarna merah. Aku mengeluarkan sebuah paku besar dan menusukkannya ke ban sepeda motor itu. Aku ingat, itu adalah sepeda motor Rama. Waktu itu aku cemburu pada Rama karena ia ingin merebut Mitha dariku, maka sepulang kuliah aku mengempesi sepeda motornya.

Adegan berubah lagi. Masih di tempat parkir, namun kini di tempat parkir mobil. Terlihat aku mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celanaku, lalu aku menggoreskan pisau itu ke sebuah mobil berwarna hitam, membuat sebuah goresan yang dalam dan panjang melintasi bagian samping tubuh mobil itu. Itu adalah mobil Pak Yasin, salah seorang dosen di kampusku. Waktu itu adalah akhir semester, aku marah karena ia menuduhku sering membolos, padahal aku sudah memberikan surat izin sakit, tapi ia malah mengira kalau surat itu palsu. Akhirnya aku tidak lulus di mata kuliah itu, dan aku balas dendam dengan merusak mobilnya.

Adegan selanjutnya memperlihatkan aku yang sedang bersama teman-temanku. Saat itu adalah malam tahun baru, aku ada di rumah Agus bersama teman-temanku yang lainnya. Di antara piring-piring yang berisi nasi dan ayam bakar, terdapat dua botol minuman yang sebagian terbungkus plastik hitam. Terlihat aku yang tampak ragu ketika Agus menawari minuman itu, tapi akhirnya kuminum juga. Aku ingat, itu adalah pertama kalinya aku mencicipi minuman keras. Awalnya aku merasa takut, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa dan rasa takut itu pun terkikis.

“Cukup!!!” aku berteriak sendirian seperti orang kesetanan.

Aku segera meraih mouse dan menekan tombol “Stop”. Film itu berhenti. Aku tidak tahan lagi melihat semua ini, amat menakutkan. Keringat dingin membasahi tubuhku ketika aku mengeluarkan DVD itu dan mematikan komputer.

 

***

Hujan deras tak juga mau berhenti. Hujan itu amat deras, seakan merayakan ketakutan dan ketidakberdayaanku saat ini. Aku masih terduduk lemas di depan pintu Dwi Mitra yang masih juga belum menunjukkan tanda-tanda akan terbuka. Kali ini aku sudah dapat memastikan kalau yang mengalir di pipiku ini adalah air mata. Kugunakan tanganku untuk menyekanya. Aku harus tetap tenang dan berpikir rasional, pikirku.

Kira-kira siapa yang bisa merekam segala aktivitasku seperti itu? Apakah satelit? Tapi apa iya, satelit bisa melihat menembus tembok? Lagipula jelas-jelas kalau itu adalah rekaman handycam. Atau mungkin ada seorang mata-mata profesional yang dapat memasang kamera tersembunyi di dalam kamarku, dan mengikuti gerak-gerikku sambil menenteng handycam? Tapi untuk apa? Aku kan bukan penjahat yang harus dimata-matai? Atau mungkin… wartawan? Oh iya, mungkin paparazzi? Mustahil! Aku bukan selebritis!

Setiap kemungkinan yang aku pikirkan tampak tidak masuk akal. Di tengah kebingunganku, aku teringat kata-kata ibuku ketika aku masih kecil dulu.

“Nanti ya, Gi, di akhirat semua orang bakal dikasih liat semua perbuatan dosanya,” ucap ibuku kepadaku yang waktu itu masih SD.

“Dikasih liat, maksudnya gimana, Ma?” tanyaku.

Aku ingat, waktu itu aku sedang persiapan ujian pelajaran agama di sekolah, ibuku bercerita macam-macam.

“Iya, dikasih liat. Di akhirat ada layar besar lho, kaya di bioskop. Terus orang itu bakal disuruh nonton, jadinya dia nggak bisa bohong lagi.”

“Lho, kok bisa? Emangnya siapa yang ngerekam filmnya, Ma?”

“Ya ampun, Egi, gimana mau dapat nilai bagus nih ujiannya? Masa gitu aja kamu lupa? Kan udah Mama ceritain, kalau di samping kanan dan kiri setiap orang itu, ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatat perbuatan kita!”

JGERR!!!

Sebuah suara halilintar yang amat keras memecah lamunan tentang masa kecilku. Aku kembali tersadar, kini aku ada di depan pintu Dwi Mitra yang tak juga terbuka. Hujan masih terus turun. Apakah aku duduk terdiam di sini untuk menunggu hujan sampai reda? Ataukah aku duduk terdiam karena terlalu lemas untuk berdiri?

Tiba-tiba seorang ibu-ibu berpayung berhenti di depan teras bangunan itu. Tampaknya ia heran melihatku yang berada di sini dengan pakaian yang basah kuyup.

“Dik, nyari siapa? Nyari Mbak Ratna ya?”

Aku berusaha untuk bangkit dan menjawab pertanyaan ibu itu, “Iya, Bu. Ibu tau sekarang Mbak Ratna atau Mas Anton ada dimana?”

“Saya juga nggak tau. Mereka nggak bilang pindah kemana. Kata anak-anak yang suka nongkrong di deket sini sih, rental ini udah disewa orang lain dan sebentar lagi mau dijadiin rumah makan.”

Aku nyaris putus asa mendengarnya. Ternyata percuma saja aku bolak-balik ke tempat ini, aku tak akan menemukan mereka di sini.

Beberapa menit setelah ibu itu pergi, hujan mulai reda dan hanya menyisakan gerimis. DVD “Sin” itu masih kupegang erat di balik kantong plastik yang basah. Di dalam hatiku, ada keinginan untuk mencari keberadaan Mbak Ratna dan Mas Anton. Mungkin saja mereka tahu asal-usul rekaman ini.

Aku melangkah keluar ketika hujan telah berhenti dan berniat kembali ke tempat kost. Genangan air menghiasi setiap langkah kakiku. Di antara riak-riaknya, aku dapat melihat pantulan wajahku. Wajah yang kotor dan penuh dosa, dan seseorang—atau sesuatu—telah merekam dosa-dosa itu dalam sebuah piringan. Aku menoleh ke sebelah kanan dan kiriku, seperti orang linglung. Apakah ini perbuatan mereka? Aku menoleh ke sekelilingku, orang-orang mulai keluar dari rumahnya karena hujan telah berhenti. Ada yang menyapu halaman rumahnya dari genangan air, ada yang sekedar mengobrol di pinggir jalan sambil merokok. Apakah ini perbuatan mereka? Tiba-tiba aku teringat noda hitam bekas terbakar yang kutemukan di dinding kamarku, salah satu tempat dimana kamera itu semestinya terpasang. Dadaku masih terasa sesak. Rasa malu dan rasa takut ini baru pertama kali kurasakan. Dalam hati aku berharap, semoga saja benda ini bukan buatan manusia.

 

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).